Siapa bilang peraturan dibuat untuk diatati? Pasti jiwa anda
akan protes jika saya berkata demikian. Yang ingin saya tekankan adalah, jauh
sebelum anda memilih untuk menaati sebuah peraturan, terlebih dahulu anda harus
mengkritisi sebuah peraturan, karena kita tahu dan yakin bahwa yang membuat
peraturan adalah manusia. Manusia yang sama seperti anda, tidak 100% benar,
plus terkadang khilaf, dan juga memiliki kepentingan. Dengan kalimat tersebut,
tetunya anda paham bahwa yang saya maksud dengan peraturan dalam tulisan ini
adalah produk peraturan hasil “kreasi” manusia. Saya tidak membahas peraturan
yang ada pada agama saya ataupun agama anda, tapi sekali lagi, peraturan yang
diciptakan oleh manusia. Aturan-aturan buatan manusia yang ada disekeliling kita,
dikehidupan kita, yang tanpa kita sadari, telah kita jalani tanpa kita kritisi.
Sebuah produk peraturan bisa saja dihasilkan dengan
pertimbangan yang kurang tepat atau juga karena atas dasar kepentingan si
pembuat peraturan. Itu semua tergantung pada yang membuat peraturan, siapa dan
apa latar belakangnya. Saya ambil contoh, mengenai peraturan wajib menggunakan
helm bagi kendaraan bermotor. Saya terinspirasi dengan video “The angry Kiyai” yang akhir-akhir ini di
blow up oleh youtube. Coba kita telaah lebih jauh, seseorang ditilang karena ia
tidak menggunakan helm. Pertanyaan saya, apakah dengan tidak menggunakan helm,
anda akan membahayakan orang lain atau pengendara lain? Tidak! Ini artinya,
seseorang ditilang dan juga didenda hanya karena membahayakan dirinya sendiri. Terdengar agak aneh bagi saya mungkin juga
bagi anda. Setiap orang punya hak atas dirinya sendiri bukan?
Apakah itu artinya pemerintah peduli dengan masyarakatnya?
Lantas kalau memang peduli, mengapa ada sanksi? Kalau memang
peduli, ada cara yang lebih baik menurut saya, seperti bagi2 helm (maunya :p), dan
lain sebagainya. Terlebih lagi, bagi pengendara mobil, jika anda
membaca peraturan lalu lintas lebih jauh, anda akan mendapati bahwa setiap
pengendara roda empat diwajibkan membawa kotak P3K dan tentunya akan ditilang
plus denda jika tidak mematuhi.
Jadi apakah itu artinya pemerintah peduli? Mmm... mungkin iya. Namun sayangnya, belum semua aparat pemerintah bisa memberikan teladan yang baik pada masyarakatnya. Ditambah lagi dengan praktek nepotisme yang mungkin sulit lepas dari diri kita.
Jika pemerintah memang peduli dengan masyarakatnya, saya lebih setuju jika pemerintah juga memikirkan masalah lain seperti rokok. Karena jelas-jelas kita tahu bahwa rokok merusak dan lebih mematikan dibanding “mengendarai motor tanpa helm”. Dan lagi, rokok tidak hanya membahayakan si perokok sendiri, tapi juga orang-orang di sekitarnya.
Analogi sederhananya:
1. Jika merokok: anda membahayakan diri anda dan orang disekitar anda, tapi anda tidak dihukum
2. Jika tidak memakai helm: anda membahayakan diri anda, dan anda dihukum
Analogi sederhananya:
1. Jika merokok: anda membahayakan diri anda dan orang disekitar anda, tapi anda tidak dihukum
2. Jika tidak memakai helm: anda membahayakan diri anda, dan anda dihukum
Ya, sekali lagi, tidak menutup kemungkinan semua dilandasi
kekhilafan atau mungkin kekurang-pintaran dari si pembuat peraturan. Dan juga
tidak menutup kemungkinan semua dilandasi atas dasar kepentingan. Mungkin saja,
sekali lagi mungkin, peraturan berhelm diwajibkan karena ada suntikan dari
perusahaan2 asuransi. Dan mengenai rokok, bukan lagi mungkin, tapi pastinya,
rokok juga masih legal karena ada suntikan dari perusahaan rokok.
Jika dikaitkan dengan teori tata negara, ya inilah salah satu hasil demokrasi. Inilah wajah gelap sistem demokrasi yang secara tidak langsung “mendistribusikan” kekuasaan dan pada akhirnya, terciptalah “raja-raja” kecil di berbagai ranah pemerintahan. Masing-masing membawa kepentingan, entah kepentingan pribadi, entah kepentingan pihak lain. Terlepas dari orang-orang yang menertawakan para perindu-perindu Khilafah, suatu hal yang pasti bahwa, islam itu akan bangkit. Jika anda muslim anda tentu harus percaya, karena sumbernya adalah hadist. Beberapa hadist juga menyebutkan bahwa kebangkitan Islam akan berawal dari Timur, apakah dari Indonesia? Wallahua’lam. Terlepas dari kapan dan dimananya kebangkitan islam bermula, satu hal yang perlu kita yakini adalah, islam akan berjaya kembali seperti pada saat zaman Rasulullah SAW dulu. Tinggal kita memilih, apakah ingin ikut ambil bagian, atau hanya ingin sekedar menjadi penonton.
- Habib, Depox 21 Desember 2014
“Islam akan mencapai apa yang telah dicapai siang dan
malam (artinya seluruh dunia), dan Allah tidak akan membiarkan rumah-rumah yang
terbuat dari batu dan rumah-rumah yang lain kecuali diperuntukkan bagi Islam,
baik dengan cara terhormat atau sebaliknya, kehormatan yang diberikan Allah
untuk Islam, dan kehinaan yang digunakan untuk menghina orang-orang kafir.”
(HR. Ahmad, Thabrani dan Ibnu Hibban dari Al Dariy)
”Masa kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa
masa hingga waktu yang ditentukan Allah, kemudian Allah mengangkatnya, setelah
itu datang masa kekhalifahan
mengikuti manhaj kenabian, selama beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah, kemudian
Allah mengangkatnya, setelah itu datang masa raja-raja yang menggigit selama beberapa masa hingga waktu yang
ditentukan Allah, kemudian Allah mengangkatnya, setelah itu datang masa raja-raja yang memaksakan kehendak dalam beberapa masa hingga waktu yang
ditentukan Allah, setelah itu akan terulang kembali kekhalifahan mengikuti manhaj kenabian. Kemudian beliau terdiam.” (Hadits hasan
riwayat Imam Ahmad 37/361)
(Maaf nggak sempat cari sumber pertama :p)