Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Mei 2013

Ayo Buruan Jadi Pemimpin



Jadi ceritanya tadi siang saya ikut training leadership. Sebenarnya saya nggak masuk hitungan peserta sih, karena peserta yang ikut adalah ketua LDK se-Jabodetabek. Cuma hari ini, dimintai tolong buat bantu-bantu panitia, jadi LO. Alhasil singkat cerita, saya malah ikut training nya yang di isi oleh Pak Agung (sebagian manggilnya ustad Agung, karena biasanya sebagian orang nggak mau di panggil ustad, jadi saya panggil Pak Agung aja). Beliau S1-S3 nya di Jerman dan sekarang lagi S3 lagi di Malaysia.

Banyak wawasan dan motivasi yang di dapat dari beliau. Biar ringkas dan mudah dipahami, saya tulis dalam bentuk poin-poin aja :

  1. Siapa itu pemimpin?
    Pemimpin adalah orang yang mampu memberi pengaruh (influence).  Kepemimpinan bukanlah perkara jabatan atau posisi struktural. Kita tidak perlu harus menjadi ketua sebuah organisasi untuk menjadi seorang pemimpin. Bawahan pun juga bisa memimpin ketuanya dan orang-orang disekitarnya selama ia memiliki kemampuan untuk memberikan pengaruh dan pengendalian lingkungan.
  2. Siapa yang dipimpin?
    Sebagai seorang pemimpin kita sadar bahwa yang kita pimpin adalah manusia. Seorang penggembala sapi pasti akan mencatut hidung sapi agar ia bisa mengendalikannya. Seorang peternak kambing akan mengikat leher si kambing agar ia mudah di kendalikan. Seekor "ibu" kucing pasti akan menggigit punuk/leher anaknya untuk membawanya dan agar anaknya diam/kalem. Ya, itu adalah contoh bahwa untuk mengendalikan sesuatu kita harus mencari titik lemahnya dan menguasainya. Disinilah poinnya. Siapa yang kita pimpin? Kita tidak sedang memimpin sapi, kambing, apalagi kucing. Yang kita pimpin adalah manusia. Pertanyaannya, dimana titik lemah manusia? Otaknya? Lehernya? Tangannya? Badannya? Bukan! Titik lemah manusia ada dihatinya. Maka untuk menjadi pemimpin yang sukses, kita harus mampu merebut hati orang yang kita pimpin agar mereka mau bekerja sama dan mengikuti apa yang kita arahkan.
  3. Apa modal seorang pemimpin?
    Kepercayaan
  4. Bagaimana membangun kepercayaan?
    1. Credibility
      Kredibilitas ialah persoalan kualitas diri dan track record. 
    2. Intimacy
      Jika seorang pemimpin belum memiliki kredibilitas yang mumpuni, ia bisa menonjolkan dirinya dengan cara pendekatan personal (intimacy). 
    3. Reability
      Jika seseorang tidak memiliki Kredibilitas dan pendekatan personal yang cukup baik, ia dapat mengusahakannya melalui pembuktian dengan cara melakukan kerja-kerja nyata.
  5. Apa yang akan meruntuhkan kepercayaan?
    Self Orientation. Seorang pemimpin harus mampu memposisikan kepentingan orang-orang yang ia pimpin diatas kepentingan dirinya.
  6. Apa kriteria pemimpin yang sukses?
    1. Dream.
      Memiliki mimpi
    2. Learning ability.
      Memiliki kemampuan dan kemauan untuk belajar 
    3. Deadline/target.
      Memiliki deadline/target yang jelas dalam hidupnya (power of "kepepet")
    4. Sharing.
      Memiliki kemauan untuk berbagi
Dalam pertemuan ini, Pak Agung juga sempat bercerita mengenai kondisi tanah air Indonesia yang kaya raya. Begitu kayanya bahkan kekayaan alam 10m2 tanah di Indonesia sama dengan kekayaan alam 100m2 tanah di Eropa. Yang sangat menyedihkan adalah, ketika kita tidak mampu memimpin kekayaan kita. Lihat Malaysia, negaranya hanya memiliki kekayaan minyak sepersepuluh dari Indonesia. tapi perusahaannya (Chevron) mampu memiliki Twin Tower dan Perguruan Tinggi. Sementara Indonesia (Pertamina) hanya sebatas Rumah Sakit (Pertamina) itupun bayarnya mahal. Lebih sedih lagi ketika Pak Agung bercerita bahwa di Nusa Tenggara, kekayaan Timah Indonesia yang awalnya berupa bukit dengan tinggi 400 meter (kalau nggak salah), kemudian dikeruk dan menjadi kubangan raksasa dengan kedalaman 200 meter. Memang Tanah bertimahnya dibersihkan di Jepang dan balik ke Indonesia. Tapi kita saja yang nggak tahu kalau kotoran Timah yang dibersihkan di Jepang itu mengandung Emas, dan "kotoran" itu nggak balik ke Indo, tinggal di Jepang.

Siapa yang rela bangsa ini terus menerus dibodohi? Nggak ada kan. Makanya, buruan ambil peran sebagai pemimpin. Pikirkan bangsa, keluar dari kotak. Jangan cuma mikirin soal sarjana, kerja, nikah, punya anak, tua terus mati. Tapi pikirkan kontribusi kita. Pak Agung juga mengatakan, apa salahnya sih kita meluangkan waktu satu jam aja buat nulis tentang kekayaan alam Indonesia terus di muat di majalah atau koran Nasional? Kalau ditolak kirim terus sampai diterima dan dimuat. Pak Agung juga menambahkan dengan sedikit tips, kalau perlu pergi ke Malaysia atau Singapura sana dengan tiket Air Asia promo, terus tulis embel-embel "dari bawah menara kembar"atau sebagainya, karena kesan tulisan dari luar negeri pasti lebih bernilai tinggi. 

Indonesia bukannya nggak bisa. Indonesia pasti bisa!. Tuh buktinya Gross Domestic Product (GDP) kita peringkat 15 se-Dunia di tahun 2012. Dan diperkirakan tahun 2030 bakal masuk peringkat 7 besar dunia. Artinya Indonesia di tahun itu bakal kayak Inggris, Amerika dan negara-negara maju lainnya. Mau? Ayo buruan kontribusi!

Mumpung kita masih muda. Saatnya unjuk gigi. Lihat Jendral Sudirman, Bung Karno dan Bung Hatta. Mereka adalah pemuda dan mereka pemimpin. Mana ada sekarang Jendral yang umurnya 30an kayak Jendral Sudirman. Dan jarang banget sekarang Presiden yang umurnya 40an kayak Soekarno dan Obama. So, saatnya kita ambil peran, karena ketiga pemuda diatas telah membuktikan bahwa mereka mampu membawa perubahan. 

Terakhir, ini dalil mengapa kita harus mampu menjadi pemimpin yang baik? Karena kita semua adalah pemimpin :

“Ketahuilah…Setiap dari kalian adalah pemimpin yang akan di mintai pertanggung jawabannya, seorang imam adalah pemimpin bagi masyarakatnya dan akan di mintai pertanggung jawabanya tentang kepimpinannya,


seorang suami adalah pemimpin bagi keluarga dan ia bertanggung jawab terhadap keluarganya, seorang istri adalah pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya dan ia bertanggung jawab terhadap mereka,

seorang pembantu adalah pemimpin bagi harta tuannya dan ia bertanggung jawab terhadapnya, setiap kalian adalah pemimpin dan tiap kalian mempunyai tanggung jawab terhadap yang di pimpinnya”. (HR. Abu Daud : 2930)

Semoga nggak cuma dijadikan renungan, tapi kita tunjukkan dengan aksi nyata. Salah satu doa dan cita-cita saya adalah, semoga saya bisa melihat Indonesia menjadi negara maju, sebelum saya tutup usia. Aamiin. Semoga ini bisa menjadi cita-cita kita bersama.

Depok, 
Lab Jarkom, Fasilkom UI
-disela-sela perjuangan skripsi-

Selasa, 02 April 2013

Sabar dan Ikhlas Butuh Perjuangan




Melanjutkan twit saya kemarin :

Sebenarnya twit tersebut adalah inti dari ide postingan yang ingin saya sampaikan sekarang.


Ya Memang, 
Sabar dan ikhlas termasuk pelajaran hidup. Dan selayaknya mempelajari sebuah ilmu, ia pasti akan terasa berat di saat-saat pertama. Dan akan semakin berat pada tahapan selanjutnya. Butuh perjuangan tentu. Jatuh bangun, tangis dan air mata, depresi, stres dsb. Namun lambat laun akan terasa mudah. Mungkin, sebagian yang gagal akan terus berada pada kondisi depresi, stres bahkan gangguan jiwa. Namun mereka yang berhasil akan merasakan manisnya nikmat dari buah keikhlasan, yaitu kebahagiaan, yang berhasil ikhlas akan tetap tersenyum bahagia.

Ikhlas, mudah diucapkan namun tidak mudah untuk direalisasikan. Saya beri sebuah contoh :

Fatih adalah seorang Sarjana Kedokteran yang baru lulus satu bulan lalu. Sekarang seperti teman-temannya yang lain, ia tengah menjalani koas di RSUD Depok. Kisah cintanya berawal dari sini, cinta yang bahkan tak terucap. Hampir setiap hari, semasa koas, mereka selalu bersama. Anissa, seorang gadis sholehah yang satu kelompok koas dengannya. Cinta lokasi, hal yang biasa. Tapi ia merasa sudah sangat terjatuh, begita dalam. Bahkan, dalam diam, hampir setiap malam ia selalu "memantau" akun fb nisa. Begitu pula twitter nya. Hanya ingin tahu, tak lebih. Itu yang tersirat di benaknya. Satu hari saja tak membuka akun akun tersebut, bagaikan dipenjara baginya. 

Hingga, Allah SWT menentukan jalan lain. Beberapa bulan setelah masa koas dimulai, Nisa dipinang oleh kakak tingkatnya. Tragis, sangat tragis bagi Fatih. Cinta yang tak pernah terucap itu, kini harus ia kubur, ia benam, ia hancurkan. Tak ada lagi kesempatan untuk mengucapkannya, satu kali pun tidak. Sabar, ikhlas, itulah yang harus ia lakukan. Sayang, meski waktu telah berlalu dan kenyataan sudah didepan mata, namun ia tak mampu menerima. Sudah satu bulan semenjak pernikahan Nisa, hingga saat ini pun, setiap malam, ia masih terus rajin membuka akun fb nisa. 

Ia tak tahu kenapa. Hampir setiap malam pula air matanya mengalir tatkala melihat foto-foto pernikahan Nisa. Kisah terus berlanjut. Bahkan beberapa sahabat terdekat sudah menasehatinya ketika ia curhat, namun nihil hasilnya. Bukan logikanya yang berkeinginan. Tapi entah kenapa pikirannya terus berada pada penyesalan. "Seandainya dulu aku ucapkan", selalu itu yang terbersit dan selalu diselingi air mata yang keluar tanpa kehendaknya. 

-----

Fatih, seseorang yang saya gambarkan berjuang untuk ikhlas. Bukan kehendaknya. Ia berkeinginan sangat keras untuk bisa ikhlas, namun hatinya terus membantah. Penyesalannya tak tertarbayar, tak akan pernah. Satu-satunya jalan adalah ikhlas. Dan ia harus memaksakan diri. Meski cuma kisah khayalan yang saya buat, namun tentu saya ingin berbagi sedikit ilmu, berikut kelanjutannya :

Empat puluh hari sudah semenjak pernikahan Nisa berlangsung. Kini ia masih dirundung penyesalan yang konyol. Waktunya habis untuk menyesali kenapa dulu tidak ia ucapkan. Pikirannya pun tak fokus. Setiap membuka situs jejaring sosial, selalu ia "mampir" di akun Nisa dan selalu tak lepas dari air mata, setiap malam, setiap hari. Hingga ia depresi. Kewajiban apapun ia jalani setengah-setengah karena kehilangan gairah hidup. Hingga suatu hari, ia bertekad berubah. Inilah titik perubahan.

Ia ambil secarik kertas putih. Dikertas itu ia tulis, 
Saya, Muhammad Fatih berjanji,
tidak akan membuka akun fb dan twitter Nisa hingga satu minggu dari sekarang. Jika melanggar, maka saya akan berdosa, push up 100x dan lari keliling UI 5x. Jika saya berhasil, maka hadiahnya adalah sebuah Toblerone ukuran besar plus Pizza ukuran sedang.
Depok, 5 Desember 2012 
Ttd
Muhammad Fatih 

Seminggu kemudian, ia berhasill menepati janjinya. Ia rayakan kemenangannya dengan Toblerone dan Pizza. Ia bahagia, bahkan ia perpanjang janjinya untuk sebulan kedepan meskipun saat ini ia sudah bebas dari pikiran tentang Nisa. Tidak lagi menghabiskan waktu untuk "mantengin" TL dan akun fb nya. 


Begitulah kisah Fatih. Ia tahu ia suka coklat. Yang ia lakukan ialah, memaksa dirinya untuk melupakan Nisa. Memaksa dirinya untuk bisa ikhlas. Inilah yang ingin saya sampaikan, bahwa untuk bisa ikhlas, untuk belajar agar bisa ikhlas, terkadang butuh sedikit paksaan. 

Agak aneh memang. Ketika kita berbicara tentang ikhlas, yang artinya tanpa paksaan, justru kita berjuang ikhlas dengan sebuah paksaan. Inilah yang namanya proses belajar. Sepertinya halnya belajar sholat dan mengaji waktu kita SD dulu. Kita tahu, sejatinya ibadah harus dilakukan dengan ikhlas. Namun, Rasulullah bahkan memerintahkan orang tua kita untuk memukul kita ketika kita sudah berumur tujuh tahun dan tidak mau disuruh sholat. 

Seperti halnya Fatih, sudah menjadi kewajibannya untuk melupakan "istri orang", ia mau, ia ingin, tapi hatinya sulit dilawan. Akhirnya ia lawan dengan paksaan. Karena ini adalah kondisi dimana ia harus bisa ikhlas.

Contoh yang agak galau memang. Tapi tak apalah, saya belum terpikirkan contoh yang lain, hehe. Semoga bisa diambil manfaatnya.

Kamis, 28 Februari 2013

Kehidupan dan Ilmu Ikhlas

Aku ingin bercerita sedikit tentang hidup. Hidup ini bagaikan perjalanan panjang dimana kita mulai berjalan sejak kita dilahirkan hingga kita dimatikan nanti. Banyak cobaan dan beban yang menanti kita. Di saat kita merasa senang dan nyaman, kemungkinan besar kita tidak sedang hidup dengan benar.

Dari Abu Hurairah r.a., "Rasulullah SAW bersabda : "Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir" HR. Muslim

Di lain waktu kita sering mendengar bahwa dunia ini adalah tempat persinggahan. Sejatinya ada jalan yang lebih panjang yang akan kita tempuh. Kehidupan kekal yang akan kita nanti. Di tempat persinggahan inilah seharusnya kita berlomba-lomba membekali diri agar kita bisa diterima di tempat yang indah untuk kehidupan kekal nantinya, jannah, ya, kehidupan yang kekal, sesuai dengan firman Allah SWT :

"Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya." (QS. 2/Al-Baqoroh: 82)

Tapi sayang, bagi sebagian orang, jalan menuju syurga itu "terlihat" lebih sukar dibanding jalan menuju neraka. Dan memang kenyataannya tidak mudah. Banyak godaan dan cobaan yang harus kita lawan dari Si musuh abadi, syaitan. Tidak sedikit yang terjebak dalam tipu dayanya. Terkadang aku pun berfikir, teramat banyak cobaan di dunia ini. Masih jauhkah kematian itu? Berapa banyak lagi cobaan yang harus kulalui hingga aku tiba di garis "finish"? Pertanyaan bodoh!. Lantas, apakah aku sudah siap menghadapi kematianku? Sudah cukupkah bekal sampai-sampai aku mengeluh dengan masalah duniaku?

Tidak, aku belum siap. 

Aku bukan mengharapkan kematian. Karena tanpa aku harapkan pun ia akan menemuiku. Namun terkadang terlintas dipikiranku bahwa aku harus lebih kuat menghadapi masalah, karena aku tidak tahu kapan dan dimana garis "finish" ku berada. Setiap butir masalah seharusnya membuat kita lebih kuat, bukan malah sebaliknya, melemahkan.

Sekali lagi, dengan "baju" kotor ini, aku bukan mengharapkan kematian. Masih banyak dosa yang harus aku timbuni dengan berjuta kebajikan dan 'amalan. Aku masih harus berusaha keras untuk menggapai Ridha Nya. Sehingga nanti ketika aku meninggalkan dunia ini, Ia Ridho atasku. Ridho atas kehidupanku dan penciptaanku.

“Tidak Aku ciptakan jin dan Manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz –Dzariyat: 56 )

Namun tidak dapat kupungkiri, ketika dihadapi masalah terkadang aku mengeluh, dan mungkin lebih banyak mengeluh. "Mengapa ini terjadi padaku? Mengapa harus seperti ini?", dan sebagainya. Ketika dilanda kekecewaan dan ketidakpuasan, terkadang aku mengeluh. Aku lupa dengan tugasku. Satu tujuan penciptaanku, beribadah kepada Allah SWT. Ketika terlena dengan problematika kehidupan, jujur kuakui terkadang aku lupa, aku khilaf. 

Banyak hal yang aku hadapi, permasalahan dan polemik hidup selama 20 tahun aku menghirup udara bumi. Namun sayang, dengan umur yang sudah mencapai taraf dewasa, perkara ikhlas dan sabar pun belum bisa aku pahami sepenuhnya, belum bisa aku aplikasikan dengan baik. 

Salah satu masalah terberat dalam hidup ini ialah ketika kita dihadapkan pada rasa kecewa. Terlebih ketika apa yang telah kita impikan dan dambakan selama bertahun-tahun yang lalu, tidak dapat tercapai. Kecewa dan sedih. Beribu pertanyaan  dan tuntutan bodoh mulai bermunculan di dalam pikiran. "Mengapa begini, mengapa begitu, mengapa seperti ini...". Beribu pertanyaan yang tidak tahu harus dialamatkan kepada siapa. 

Ketika ini terjadi, aku akan berkata pada nurani :

"wahai ruh, wahai jiwa yang bersemayam di dalam raga ini. Bersabarlah ketika kau dihadapi masalah, karena sesungguhnya Allah membersamai orang-orang yang sabar. Ketahuilah, tidak mewujudkan cita-cita dan impianmu bukan berarti Ia tak menyayangimu. Bisa jadi Ia mempunyai sesuatu yang lebih baik untukmu, jauh lebih baik dari yang kau inginkan"

"Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku” (Muttafaqun ‘alaih).



- Mendewasa dan Belajar Ilmu Ikhlas -

Selasa, 05 Februari 2013

Lebih baik paham dari sekarang

Dari statusnya Om Tere Liye :

Seorang guru pernah menasehati, ada 4 hal kunci hidup lurus dan bahagia:
1. Hidup sederhana
2. Senantiasa bersyukur
3. Mencintai berbuat baik
4. Sering mengingat kampung yg abadi

Cepat atau lambat, semua orang akan paham 4 hal ini. Ada yg paham saat usianya masih muda, ada yg paham se hasta lagi dari maut, benar2 terlambat.


Dari keempat poin diatas, menurut saya yang agak sulit sepertinya perihal bersyukur dan mengingat kematian. Terkadang ketika dalam keadaan berkecukupan seperti ini, sering sekali kita lupa bersyukur dan malah banyak menuntut. Terlebih terkadang masih sering menyesal kenapa dikasih takdir begini dan begitu. Salah satu cara bersyukur, tentunya dengan sering-sering melihat kebawah.


Perihal poin yang ke empat, terkadang saya juga sering lupa bahwa tujuan hidup ini tak lain ialah demi mendapat Ridho Allah SWT. Sering kali kita lupa, ketika disibukkan dengan persoalan dunia, seolah-olah dunia menjadi tujuan hidup. Padahal sejak dari SD juga kita sudah diajarkan oleh guru agama bahwa hidup di dunia ini hanya sementara dan sebagai tempat persinggahan.


Selain dari keempat poin diatas, ketika saya bersedih dan kecewa, saya hanya ingat satu hal bahwa hidup ini hanya sementara. Suata saat kita akan berpindah alam. Segala kekecewaan pasti akan ada akhirnya. Dunia memang tempat merasakan sakit dan derita. Zona perjuangan yang hanya sementara. Ada tempat abadi yang bernama syurga dimana tak ada sakit, perih dan rasa sedih. Dan itulah balasan bagi orang-orang yang senantiasa beriman dan taqwa kepada Allah SWT. Semoga kita semua kelak akan dikumpulkan dalam jannah-Nya.

Jumat, 12 Oktober 2012

Deadline!!!

Ya, kita tak asing dengan kata-kata deadline.
Deadline merupakan batas waktu yang menjadi patokan kapan suatu pekerjaan harus diselesaikan.

sumber : scele.cs.ui.ac.id, setiap tanggal merah bukan hari libur, melainkan deadline tugas

Sedikit curhat saja, akhir-akhir ini deadline-deadline tugas di kampus saya begitu membabi-buta. Bagai senapan mesin otomatis yang menghabisi targetnya tanpa ampun. Hampir setiap minggunya ada deadline dan bukan cuma satu. Belum lagi amanah yang memiliki deadline tersendiri di setiap minggunya. Berat? Tentu!

Itulah hidup, hidup dipenuhi dengan deadline.

Disalah satu twitnya, teman saya @yahyaman09 berceloteh, "Yeah! everyday is a deadline day!".  Tepat sekali!. Setiap hari dalam hidup kita merupakan deadline, garis mati. Mungkin lebih tepatnya setiap detik.

Sungguh, (sebagai mahasiswa normal) ketika ada tugas, kita takut jika kita tidak dapat menyelesaikan tugas tepat waktu. Terlebih lagi bagi karyawan, karena ancamannya ialah kehilangan pekerjaan. Cemas? Wajar, berarti anda normal!

Kemudian bagaimana dengan deadline kehidupan ini?
Percayalah, setiap detik yang kita lalui ialah deadline.
Setiap detik adaah deadline bagi kita untuk berbuat kebaikan.
Setiap detik adalah deadline bagi kita untuk beramal sebanyak-banyaknya.
Setiap detik pula adalah deadline bagi kita untuk mempersiapkan diri menghadapi akhir hidup ini.
Mengapa? Jawabannya cuma satu, kita tak tahu kapan kita akan dipanggil oleh-Nya.
Detik demi detik, bagi mereka yang sadar, tentu akan selalu dihantui dengan ketakutan.
Sudah siapkah?
Sudah cukupkah amalan kita?
Sudah pantaskah untuk menerima syurga-Nya?
Sudah memohon ampunkah?
Sudah bertaubatkah?

Jawabannya akan selalu belum. Siapapun kita, sombong sekali jika kita berkata kita sudah siap.

Bayangkanlah, nabi kita, yang selalu kita cintai dan sayangi, Muhammad SAW, satu-satunya manusia yang terlepas dari dosa, pun setiap harinya beliau beristighfar lebih dari 70 kali. Seorang manusia yang telah dijanjikan syurga, namun dia tetap takut jika tak mendapat Ridho dari Allah SWT.

Lalu, siapa kita? Sucikah kita?

Kita bukan siapa-siapa. Kita bukan Nabi apalagi Rasul. Kita tak pernah dijanjikan pasti masuk syurga. Kita juga bukan orang suci yang bebas dari dosa seperti Rasulullah. Malah sebaliknya, setiap harinya kita tak luput dari dosa. Jangankan istighfar lebih dari 70 kali, lebih parah lagi bahkan ada hari-hari yang kita lalui tanpa beristighfar pada-Nya, tanpa meminta ampunan kepada-Nya, tanpa meminta Ridho dari-Nya.

Lalu, SIAPA KITA?

Sejenak, saya teringat akan sebuah lagu yang dilantunkan oleh grup nasyid Raihan. Liriknya sangat manis. Begitu menyentuh. Lagu ini merupakan do'a Abu Nawas ketika masa hidupnya :

I'tiraf


Wahai Tuhan, ku tak layak ke surgaMu
Namun tak pula aku sanggup ke nerakaMu
Ampunkan dosaku, terimalah taubatku
Sesungguhnya Engkaulah pengampun dosa-dosa besar

Ilahi lastu lil firdausi ahlaa
Wa laa aqwa 'alaa naaril jahiimi
Fahabli taubataw waghfir dzunuubi
Fa innaka ghofirudz dzam bil 'adhiimi

Dosa-dosaku bagaikan pepasir di pantai
Dengan rahmatMu ampunkan daku oh Tuhanku

Wahai Tuhan selamatkan kami ini
Dari segala kejahatan dan kecelakaan
Kami takut, kami harap kepadaMu
Suburkanlah cinta kami kepadaMu

Kamilah hamba yang mengharap belas dariMu

Begitulah, kita sadar. Kita tak layak mendapat syurga. Rasulullah saja yang telah dijanjikan syurga masih beristighfar lebih dari 70 kali setiap harinya ditambah begitu banyak amalan sunnah yang beliau kerjakan. Lalu Kita? Kita belum pantas. Yang kita harapkan ialah Ridho Allah SWT. Berharap agar Ia kelak akan menerima setiap amalan-amalan kecil kita yang tak seberapa. Berharap agar Ia mau mengampuni seluruh dosa-dosa yang bahkan lebih banyak dari jumlah amaln kita. Melalui setiap amalan ini, kita berusaha memperoleh Ridho Nya. seraya berharap ampunan dari Nya. Semoga kelak kita bisa dipertemukan di jannah Nya. Amiin Ya Rabbal'alamin.


Sebagai penutup, teman-teman dapat menyimak cerita menarik berikut :

Suatu hari seorang anak datang kepada ayahnya dan bertanya, 
"Apakah kita bisa hidup tidak berdosa selama hidup kita ?". 
Ayahnya memandang kepada anak kecil itu dan berkata, "Tidak, nak". 

Putri kecil ini kemudian memandang ayahnya dan berkata lagi, 
"Apakah kita bisa hidup tanpa berdosa dalam setahun ?" 
Ayahnya kembali menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum kepada putrinya. 

"Oh ayah, bagaimana kalau 1 bulan, apakah kita bisa hidup tanpa melakukan kesalahan ?" 
Ayahnya tertawa, "Mungkin tidak bisa juga, nak". 

"OK ayah, ini yang terakhir kali, apakah kita bisa hidup tidak berdosa dalam 1 jam saja?". 
Akhirnya ayahnya mengangguk,"Kemungkinan besar, bisa nak dan kasih 
Tuhan lah yang akan memampukan kita untuk hidup benar". 

Anak ini tersenyum lega. 

"Jika demikian, aku akan hidup benar dari jam ke jam, ayah. 
Lebih mudah menjalaninya, dan aku akan menjaganya dari jam ke jam, 
sehingga aku dapat hidup dengan benar......" 

sumber : http://your-motivation-here.blogspot.com/2012/07/hidup-benar-selama-1-jam.html