Wahai Tuhan, ku tak layak ke surgaMu
Namun tak pula aku sanggup ke nerakaMu
Ampunkan dosaku, terimalah taubatku
Sesungguhnya Engkaulah pengampun dosa-dosa besar
Ilahi lastu lil firdausi ahlaa
Wa laa aqwa 'alaa naaril jahiimi
Fahabli taubataw waghfir dzunuubi
Fa innaka ghofirudz dzam bil 'adhiimi
Dosa-dosaku bagaikan pepasir di pantai
Dengan rahmatMu ampunkan daku oh Tuhanku
Wahai Tuhan selamatkan kami ini
Dari segala kejahatan dan kecelakaan
Kami takut, kami harap kepadaMu
Suburkanlah cinta kami kepadaMu
Kamilah hamba yang mengharap belas dariMu
Tampilkan postingan dengan label nasihat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nasihat. Tampilkan semua postingan
Senin, 08 April 2013
Kedudukan dan pangkat manusia
Ketahuilah nak, bahwa setiap manusia ingin memiliki kedudukan dan pangkat yang mulia, baik di hadapan Allah, di mata manusia, ataupun di hadapan keduanya. Mereka semua berharap memiliki kedudukan diatas segala kedudukan. Namun orang tua senang melihat dirimu lebih tinggi kedudukannya, lebih besar derajatnya, dan lebih mulia pangkatnya bahkan dibanding dirinya sendiri.
Maka sayangilah keduanya karena mereka yang akan terus mencintai kita bahkan semenjak kita berada dalam kandungan.
Kutipan dari sebuah buku jadul dengan bahasa yang diperingkas dan "dipercantik" :)
Nasehat Bapak Kepada Anak - oleh Muhammad Syakir
#lagimalesnulispanjangpanjang
Selasa, 02 April 2013
Sabar dan Ikhlas Butuh Perjuangan
Melanjutkan twit saya kemarin :
Sabar dan ikhlas termasuk pelajaran hidup. Dan selayaknya proses belajar, ia pasti akan terasa berat di saat-saat pertama.
— Habiburrahman (@bibrahman) April 1, 2013
Sebenarnya twit tersebut adalah inti dari ide postingan yang ingin saya sampaikan sekarang.
Ya Memang,
Sabar dan ikhlas termasuk pelajaran hidup. Dan selayaknya
mempelajari sebuah ilmu, ia pasti akan terasa berat di saat-saat pertama. Dan
akan semakin berat pada tahapan selanjutnya. Butuh perjuangan tentu. Jatuh
bangun, tangis dan air mata, depresi, stres dsb. Namun lambat laun akan terasa
mudah. Mungkin, sebagian yang gagal akan terus berada pada kondisi depresi,
stres bahkan gangguan jiwa. Namun mereka yang berhasil akan merasakan manisnya
nikmat dari buah keikhlasan, yaitu kebahagiaan, yang berhasil ikhlas akan tetap
tersenyum bahagia.
Fatih adalah seorang Sarjana Kedokteran yang baru lulus satu bulan lalu. Sekarang seperti teman-temannya yang lain, ia tengah menjalani koas di RSUD Depok. Kisah cintanya berawal dari sini, cinta yang bahkan tak terucap. Hampir setiap hari, semasa koas, mereka selalu bersama. Anissa, seorang gadis sholehah yang satu kelompok koas dengannya. Cinta lokasi, hal yang biasa. Tapi ia merasa sudah sangat terjatuh, begita dalam. Bahkan, dalam diam, hampir setiap malam ia selalu "memantau" akun fb nisa. Begitu pula twitter nya. Hanya ingin tahu, tak lebih. Itu yang tersirat di benaknya. Satu hari saja tak membuka akun akun tersebut, bagaikan dipenjara baginya.
Hingga, Allah SWT menentukan jalan lain. Beberapa bulan setelah masa koas dimulai, Nisa dipinang oleh kakak tingkatnya. Tragis, sangat tragis bagi Fatih. Cinta yang tak pernah terucap itu, kini harus ia kubur, ia benam, ia hancurkan. Tak ada lagi kesempatan untuk mengucapkannya, satu kali pun tidak. Sabar, ikhlas, itulah yang harus ia lakukan. Sayang, meski waktu telah berlalu dan kenyataan sudah didepan mata, namun ia tak mampu menerima. Sudah satu bulan semenjak pernikahan Nisa, hingga saat ini pun, setiap malam, ia masih terus rajin membuka akun fb nisa.
Ia tak tahu kenapa. Hampir setiap malam pula air matanya mengalir tatkala melihat foto-foto pernikahan Nisa. Kisah terus berlanjut. Bahkan beberapa sahabat terdekat sudah menasehatinya ketika ia curhat, namun nihil hasilnya. Bukan logikanya yang berkeinginan. Tapi entah kenapa pikirannya terus berada pada penyesalan. "Seandainya dulu aku ucapkan", selalu itu yang terbersit dan selalu diselingi air mata yang keluar tanpa kehendaknya.
-----
Fatih, seseorang yang saya gambarkan berjuang untuk ikhlas. Bukan kehendaknya. Ia berkeinginan sangat keras untuk bisa ikhlas, namun hatinya terus membantah. Penyesalannya tak tertarbayar, tak akan pernah. Satu-satunya jalan adalah ikhlas. Dan ia harus memaksakan diri. Meski cuma kisah khayalan yang saya buat, namun tentu saya ingin berbagi sedikit ilmu, berikut kelanjutannya :
Empat puluh hari sudah semenjak pernikahan Nisa berlangsung. Kini ia masih dirundung penyesalan yang konyol. Waktunya habis untuk menyesali kenapa dulu tidak ia ucapkan. Pikirannya pun tak fokus. Setiap membuka situs jejaring sosial, selalu ia "mampir" di akun Nisa dan selalu tak lepas dari air mata, setiap malam, setiap hari. Hingga ia depresi. Kewajiban apapun ia jalani setengah-setengah karena kehilangan gairah hidup. Hingga suatu hari, ia bertekad berubah. Inilah titik perubahan.
Ia ambil secarik kertas putih. Dikertas itu ia tulis,
Saya, Muhammad Fatih berjanji,
tidak akan membuka akun fb dan twitter Nisa hingga satu minggu dari sekarang. Jika melanggar, maka saya akan berdosa, push up 100x dan lari keliling UI 5x. Jika saya berhasil, maka hadiahnya adalah sebuah Toblerone ukuran besar plus Pizza ukuran sedang.
Depok, 5 Desember 2012
Ttd
Muhammad Fatih
Seminggu kemudian, ia berhasill menepati janjinya. Ia rayakan kemenangannya dengan Toblerone dan Pizza. Ia bahagia, bahkan ia perpanjang janjinya untuk sebulan kedepan meskipun saat ini ia sudah bebas dari pikiran tentang Nisa. Tidak lagi menghabiskan waktu untuk "mantengin" TL dan akun fb nya.
Begitulah kisah Fatih. Ia tahu ia suka coklat. Yang ia lakukan ialah, memaksa dirinya untuk melupakan Nisa. Memaksa dirinya untuk bisa ikhlas. Inilah yang ingin saya sampaikan, bahwa untuk bisa ikhlas, untuk belajar agar bisa ikhlas, terkadang butuh sedikit paksaan.
Agak aneh memang. Ketika kita berbicara tentang ikhlas, yang artinya tanpa paksaan, justru kita berjuang ikhlas dengan sebuah paksaan. Inilah yang namanya proses belajar. Sepertinya halnya belajar sholat dan mengaji waktu kita SD dulu. Kita tahu, sejatinya ibadah harus dilakukan dengan ikhlas. Namun, Rasulullah bahkan memerintahkan orang tua kita untuk memukul kita ketika kita sudah berumur tujuh tahun dan tidak mau disuruh sholat.
Seperti halnya Fatih, sudah menjadi kewajibannya untuk melupakan "istri orang", ia mau, ia ingin, tapi hatinya sulit dilawan. Akhirnya ia lawan dengan paksaan. Karena ini adalah kondisi dimana ia harus bisa ikhlas.
Contoh yang agak galau memang. Tapi tak apalah, saya belum terpikirkan contoh yang lain, hehe. Semoga bisa diambil manfaatnya.
Contoh yang agak galau memang. Tapi tak apalah, saya belum terpikirkan contoh yang lain, hehe. Semoga bisa diambil manfaatnya.
Jumat, 12 Oktober 2012
Deadline!!!
Ya, kita tak asing dengan kata-kata deadline.
Deadline merupakan batas waktu yang menjadi patokan kapan suatu pekerjaan harus diselesaikan.
Setiap detik adalah deadline bagi kita untuk beramal sebanyak-banyaknya.
Setiap detik pula adalah deadline bagi kita untuk mempersiapkan diri menghadapi akhir hidup ini.
Mengapa? Jawabannya cuma satu, kita tak tahu kapan kita akan dipanggil oleh-Nya.
Detik demi detik, bagi mereka yang sadar, tentu akan selalu dihantui dengan ketakutan.
Sudah siapkah?
Sudah cukupkah amalan kita?
Sudah pantaskah untuk menerima syurga-Nya?
Sudah memohon ampunkah?
Sudah bertaubatkah?
Lalu, SIAPA KITA?
Sejenak, saya teringat akan sebuah lagu yang dilantunkan oleh grup nasyid Raihan. Liriknya sangat manis. Begitu menyentuh. Lagu ini merupakan do'a Abu Nawas ketika masa hidupnya :
Sebagai penutup, teman-teman dapat menyimak cerita menarik berikut :
Suatu hari seorang anak datang kepada ayahnya dan bertanya,
"Apakah kita bisa hidup tidak berdosa selama hidup kita ?".
Ayahnya memandang kepada anak kecil itu dan berkata, "Tidak, nak".
Putri kecil ini kemudian memandang ayahnya dan berkata lagi,
"Apakah kita bisa hidup tanpa berdosa dalam setahun ?"
Ayahnya kembali menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum kepada putrinya.
"Oh ayah, bagaimana kalau 1 bulan, apakah kita bisa hidup tanpa melakukan kesalahan ?"
Ayahnya tertawa, "Mungkin tidak bisa juga, nak".
"OK ayah, ini yang terakhir kali, apakah kita bisa hidup tidak berdosa dalam 1 jam saja?".
Akhirnya ayahnya mengangguk,"Kemungkinan besar, bisa nak dan kasih
Tuhan lah yang akan memampukan kita untuk hidup benar".
Anak ini tersenyum lega.
"Jika demikian, aku akan hidup benar dari jam ke jam, ayah.
Lebih mudah menjalaninya, dan aku akan menjaganya dari jam ke jam,
sehingga aku dapat hidup dengan benar......"
sumber : http://your-motivation-here.blogspot.com/2012/07/hidup-benar-selama-1-jam.html
Deadline merupakan batas waktu yang menjadi patokan kapan suatu pekerjaan harus diselesaikan.
sumber : scele.cs.ui.ac.id, setiap tanggal merah bukan hari libur, melainkan deadline tugas
Sedikit curhat saja, akhir-akhir ini deadline-deadline tugas di kampus saya begitu membabi-buta. Bagai senapan mesin otomatis yang menghabisi targetnya tanpa ampun. Hampir setiap minggunya ada deadline dan bukan cuma satu. Belum lagi amanah yang memiliki deadline tersendiri di setiap minggunya. Berat? Tentu!
Itulah hidup, hidup dipenuhi dengan deadline.
Disalah satu twitnya, teman saya @yahyaman09 berceloteh, "Yeah! everyday is a deadline day!". Tepat sekali!. Setiap hari dalam hidup kita merupakan deadline, garis mati. Mungkin lebih tepatnya setiap detik.
Sungguh, (sebagai mahasiswa normal) ketika ada tugas, kita takut jika kita tidak dapat menyelesaikan tugas tepat waktu. Terlebih lagi bagi karyawan, karena ancamannya ialah kehilangan pekerjaan. Cemas? Wajar, berarti anda normal!
Kemudian bagaimana dengan deadline kehidupan ini?
Percayalah, setiap detik yang kita lalui ialah deadline.
Setiap detik adaah deadline bagi kita untuk berbuat kebaikan.Setiap detik adalah deadline bagi kita untuk beramal sebanyak-banyaknya.
Setiap detik pula adalah deadline bagi kita untuk mempersiapkan diri menghadapi akhir hidup ini.
Mengapa? Jawabannya cuma satu, kita tak tahu kapan kita akan dipanggil oleh-Nya.
Detik demi detik, bagi mereka yang sadar, tentu akan selalu dihantui dengan ketakutan.
Sudah siapkah?
Sudah cukupkah amalan kita?
Sudah pantaskah untuk menerima syurga-Nya?
Sudah memohon ampunkah?
Sudah bertaubatkah?
Jawabannya akan selalu belum. Siapapun kita, sombong sekali jika kita berkata kita sudah siap.
Bayangkanlah, nabi kita, yang selalu kita cintai dan sayangi, Muhammad SAW, satu-satunya manusia yang terlepas dari dosa, pun setiap harinya beliau beristighfar lebih dari 70 kali. Seorang manusia yang telah dijanjikan syurga, namun dia tetap takut jika tak mendapat Ridho dari Allah SWT.
Lalu, siapa kita? Sucikah kita?
Kita bukan siapa-siapa. Kita bukan Nabi apalagi Rasul. Kita tak pernah dijanjikan pasti masuk syurga. Kita juga bukan orang suci yang bebas dari dosa seperti Rasulullah. Malah sebaliknya, setiap harinya kita tak luput dari dosa. Jangankan istighfar lebih dari 70 kali, lebih parah lagi bahkan ada hari-hari yang kita lalui tanpa beristighfar pada-Nya, tanpa meminta ampunan kepada-Nya, tanpa meminta Ridho dari-Nya.
Lalu, SIAPA KITA?
Sejenak, saya teringat akan sebuah lagu yang dilantunkan oleh grup nasyid Raihan. Liriknya sangat manis. Begitu menyentuh. Lagu ini merupakan do'a Abu Nawas ketika masa hidupnya :
I'tiraf
Begitulah, kita sadar. Kita tak layak mendapat syurga. Rasulullah saja yang telah dijanjikan syurga masih beristighfar lebih dari 70 kali setiap harinya ditambah begitu banyak amalan sunnah yang beliau kerjakan. Lalu Kita? Kita belum pantas. Yang kita harapkan ialah Ridho Allah SWT. Berharap agar Ia kelak akan menerima setiap amalan-amalan kecil kita yang tak seberapa. Berharap agar Ia mau mengampuni seluruh dosa-dosa yang bahkan lebih banyak dari jumlah amaln kita. Melalui setiap amalan ini, kita berusaha memperoleh Ridho Nya. seraya berharap ampunan dari Nya. Semoga kelak kita bisa dipertemukan di jannah Nya. Amiin Ya Rabbal'alamin.
Sebagai penutup, teman-teman dapat menyimak cerita menarik berikut :
Suatu hari seorang anak datang kepada ayahnya dan bertanya,
"Apakah kita bisa hidup tidak berdosa selama hidup kita ?".
Ayahnya memandang kepada anak kecil itu dan berkata, "Tidak, nak".
Putri kecil ini kemudian memandang ayahnya dan berkata lagi,
"Apakah kita bisa hidup tanpa berdosa dalam setahun ?"
Ayahnya kembali menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum kepada putrinya.
"Oh ayah, bagaimana kalau 1 bulan, apakah kita bisa hidup tanpa melakukan kesalahan ?"
Ayahnya tertawa, "Mungkin tidak bisa juga, nak".
"OK ayah, ini yang terakhir kali, apakah kita bisa hidup tidak berdosa dalam 1 jam saja?".
Akhirnya ayahnya mengangguk,"Kemungkinan besar, bisa nak dan kasih
Tuhan lah yang akan memampukan kita untuk hidup benar".
Anak ini tersenyum lega.
"Jika demikian, aku akan hidup benar dari jam ke jam, ayah.
Lebih mudah menjalaninya, dan aku akan menjaganya dari jam ke jam,
sehingga aku dapat hidup dengan benar......"
sumber : http://your-motivation-here.blogspot.com/2012/07/hidup-benar-selama-1-jam.html
Langganan:
Postingan (Atom)

