Senin, 28 Maret 2016

Nahkoda



Kuperhatikan sekeliling
Satu persatu kapal berlayar
Nahkoda-nahkoda tangguh
Dibersamai kru nan handal

Jangkar diangkat, layar dikembang
Teman, sahabat, bahkan saudara
Mulai meninggalkan dermaga
Kami melepas mereka dengan suka cita
Meski kadang perpisahan mengharu

Perjalanan panjang menanti
Tak sedikit kapal yang karam
Tak sedikit Nahkoda yang tumbang
Umurku muda, pengalaman pun tiada
Samudra begitu keras dan bekalku teramat minim

Kubulatkan tekad
Aku harus bersiap
Bukan karena tersaingi
Bukan pula karena dermaga ini kian sepi
Tapi inilah hakikat kami sebagai lelaki

Kadang,
Ingin rasanya aku berdiam disini
Di dermaga yang kian sepi
Bersenandung memperbaiki diri

Ah Tuhan,
Andai aku bisa lebih lama disini

Tapi...
Waktunya pasti akan tiba
Disaat aku menjadi Nahkoda
Maka bahtera ini bernama keluarga
Dan syurga adalah tujuan akhirnya


Selasa, 26 Januari 2016

Harga Sebuah Komitmen





Definisi Komitmen

Hidup manusia biasanya tak lepas dari komitmen. Setiap kita, siapapun kita, pasti pernah membuat sebuah komitmen terhadap sesuatu atau komitmen untuk melakukan sesuatu, baik itu komitmen pada diri kita sendiri maupun orang lain. Kata komitmen sendiri merupakan serapan dari bahasa inggris yang artinya:

"a ​willingness to give ​your ​time and ​energy to something that you ​believe in, or a ​promise or ​firm ​decision to do something"

Jika diartikan, maka, komitmen merupakan "sebuah kemauan/kesediaan untuk memberikan waktu dan tenaga untuk sesuatu yang kita percaya atau janji atau keputusan perusahaan untuk melakukan sesuatu". Secara sederhana KBBI mengartikannya sebagai "perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu". Dari sini dapat disimpulkan bahwa komitmen ialah kesediaan untuk memberikan waktu dan tenaga dalam rangka memenuhi janji. Namun, perlu diketahui bahwa janji tidak melulu diutarakan dengan kata-kata "janji". "Besok kita ketemu disini jam 7, ya", ucapan sederhana, namun ini merupakan salah satu contoh dari janji, dimana kita harus berkomitmen untuk memenuhinya.


Tipikal Manusia dalam Berkomitmen

Baik, disini saya akan menjelaskan bagaimana pentingnya berkomitmen dan karakter manusia dalam berkomitmen, menurut pandangan saya. Saya contohkan dengan ilustrasi berikut:

Ada dua orang sahabat, Ayu dan Lala, yang masih duduk dibangku sekolah dasar. Di akhir pekan, hari sabtu sepulang sekolah, keduanya sepakat untuk berenang bersama besok sore. Kebetulan, Ayu sangat suka main air. Namun, sayangnya, setibanya dirumah, orang tua Ayu telah membuat rencana untuk shopping keluarga di waktu yang sama. Sebenarnya, Ayu bukan tipe anak yang suka shopping, namun, orang tua Ayu merupakan tipikal yang keras kepala dan agak susah diajak bernegosiasi. Nah, dari kejadian ini, berikut beberapa contoh sikap yang mungkin diambil Ayu yang dapat kita jadikan sebagai refleksi.

1. Ayu paham karakter orang tuanya yang keras kepala, akhirnya ia memutuskan untuk ikut orang tuanya, tanpa bernegosiasi sedikitpun. Ayu yakin, keluarga lebih penting daripada teman. "Mungkin, Lala bisa berenang sendirian, atau pulang ke rumah setelah lelah menunggu beberapa menit", gumam Ayu. "Aku yakin, kalau lusa nanti kujelaskan, Lala pasti paham, aku tidak datang kan ada alasannya", pikir Ayu.

2. Ayu mencoba untuk bernegosiasi dengan orang tuanya, mengutarakan bahwa dia sudah membuat janji dengan sahabatnya. Sayangnya gagal. Bahkan sampai Ayu dibentak oleh Papanya karena tidak mau menuruti kata orang tua. Ia pun menyerah dan mengalah untuk tetap ikut shopping. Ayu mencoba berfikir positif, "Ya gapapa deh ga jadi renang, jalan-jalan dengan keluarga tentu tidak ada ruginya, toh patuh dengan orang tua, lebih utama", pikir Ayu. Disini, Ayu merasa ia berkorban demi keluarganya.

3. Sejak sabtu sore, Ayu berusaha membujuk kedua orang tuanya. Ia coba dekati ibunya, mengutarakan maksud hatinya, namun tetap ditolak. "Keluarga lebih penting", kata sang Ibu. "Lagian pasti akan terasa ada yang kurang dong kalau kamu nggak ikut", tambah si Ibu. Malam hari, Ayu berusaha kembali mendekati Ibunya. Seusai makan malam, Ia coba pasang muka manja. Sambil memijit pundak sang Ibu, Ayu kembali berusaha bernegosiasi, namun masih gagal. Berulang kali Ayu mencoba membujuk kedua orang tuanya. Dari sekedar mengutarakan niat, hingga merayu ia usahakan. Bahkan ia beranikan beberapa kali bermanja dengan si ayah yang keras kepala untuk membujuknya. Meski belasan kali usahanya ditolak, namun akhirnya, minggu siang, keluarganya pun mengizinkan.

4. Ayu berusaha bernegosiasi dengan kedua orang tuanya, mengutarakan bahwa ia sudah punya janji lain, namun gagal. Akhirnya minggu siang, Ayu kabur diam-diam sambil berpesan kepada adiknya, bahwa ia akan pulang malam.


Orang-Orang Yang Tidak Berkomitmen

Dari keempat skenario diatas, kita bisa pahami beberapa gambaran karakter Ayu yang berbeda, yang mungkin bisa kita refleksikan pada diri kita. Pada dua skenario pertama, terlihat bahwa Ayu akhirnya memutuskan untuk tidak pergi berenang, singkat kata, Ayu tidak komitmen. Mungkin Ayu merasa tidak akan ada masalah dengan Lala. Mungkin Ayu menganggap ini adalah hal sepele. Ia yakin Lala bisa paham kondisi yang ia hadapi. Ia pun yakin Lala akan pulang setelah menunggu beberapa menit. Tapi bagaimana jika itu tidak terjadi. Bagaimana jika Lala malah membenci Ayu dengan sikapnya yang seperti ini? Atau bagaimana jika Lala ternyata yakin bahwa Ayu akan datang dan menunggunya hingga menjelang malam?

Kita tidak tahu akibat apa yang dirasakan oleh orang yang kita langgar komitmen dengannya. Mungkin kita merasa dia akan baik-baik saja dan semua akan baik-baik saja. Namun, bisa jadi dugaan kita salah.
Bisa jadi Lala juga sangat ingin berenang bersama Ayu, hingga ia keluarkan effort yang mungkin tidak diduga Ayu, agar bisa berenang bersama.
Bisa jadi Lala bela-belain membongkar tabungannya, membujuk orang tuanya membeli peralatan renang secepatnya, namun Ayu tak datang.
Bisa jadi juga, Lala bela-belain membatalkan janjinya dengan orang lain sebelum mengajak Ayu berenang.

Sekali lagi, kita tidak pernah tahu apa yang dirasakan oleh orang yang kita langgar komitmen dengannya. Orang-orang yang tidak berkomitmen, tidak berusaha memegang komitmen, pada akhirnya akan merugikan dan melukai orang-orang disekitarnya. Mungkin ia merasa dirinya akan baik-baik saja. Namun belum tentu dengan orang lain yang ia berikan janji. Orang-orang seperti ini cenderung egois dan egosentris. Kadang mereka berfikir, jika melanggar komitmen, maka akan lebih banyak manfaat dibanding keburukan, bagi ia dan orang-orang disekitarnya. Tapi dengan keputusan ini, ia rela mengorbankan orang lain bahkan sahabatnya. Seperti kasus Ayu, ia berfikir bahwa dirinya telah berkorban demi keluarga. Namun, sebaliknya, yang Ia korbankan justru adalah sahabatnya dan kepercayaan sahabatnya. Ia merasa semua orang akan paham dengan situasi dan kondisi yang ia hadapi, bahkan tak jarang ia memaksakan agar orang lain bisa memahami itu. Maka disini kita paham, bukanlah ciri orang yang berkomitmen, yang dengan mudahnya mengkambinghitamkan keadaan dan situasi sebagai alasan melanggar janji.


Orang-Orang Yang Berusaha Memegang Komitmen

Sekarang, coba kita lihat skenario ke tiga dan ke empat. Disini terlihat bahwa Ayu berusaha untuk melaksanakan apa yang telah ia ucapkan. Di skenario ketiga, meskipun sulit, Ayu tetap berusaha pelan-pelan membujuk kedua orang tuanya. Bahkan, ia mencoba melunakkan sikapnya pada ayahnya untuk memperoleh perhatiannya. Berbagai cara ia lakukan dalam membujuk orang tuanya. Meski berkali-kali ditolak, tapi ia tetap tidak menyerah, karena ia yakin komitmen yang ia buat tidaklah salah.

Berbeda dengan skenario ke empat, sifat Ayu cenderung keras. Ia tidak coba kesampingkan keharusan orang tua untuk ikut shopping keluarga yang menurutnya tidak punya dasar. Akhirnya ia pun memutuskan untuk kabur karena ia yakin, janji lebih utama dan ia punya hak menolak ajakan orang tuanya yang hanya sekedar untuk shopping, namun tidak digubris oleh mereka. Beberapa tipe orang-orang yang memegang komitmen, ada yang seperti ini. Dimana komitmen adalah yang nomor satu dibanding yang lain. Mereka bahkan tidak melihat celah untuk melanggar komitmen.

Kedua skenario terakhir menunjukkan bahwa, untuk bisa menjadi pribadi yang berkomitmen, tidaklah harus melawan atau membangkang, terlebih pada orang tua. Bisa dengan cara membujuk dan merayu. Namun cara ini pasti lebih lama dan lebih sulit karena butuh kesabaran ekstra, terlebih jika berhadapan dengan orang yang keras kepala. Namun yakinlah, sekeras-kerasnya batu, pasti suatu saat akan hancur juga dengan tetesan-tetesan air. Asalkan kita sabar, dan mau berusaha, pasti Allah akan memberikan jalan.

Ketika kita sudah berkomitmen, maka lakukanlah. Jika ada hal lain yang membuat kita tidak bisa commit, maka tetaplah usahakan semaksimal mungkin untuk commit, karena pasti selalu ada cara untuk menepati janji jika kita mau berusaha. Atau jika datang ajakan lain yang membuat kita harus membatalkan komitmen, maka tolaklah, terlebih ketika kita memang punya hak untuk menolak. 

Orang-orang yang senantiasa berkomitmen, tentu akan disenangi dan membuat nyaman orang-orang disekitarnya.
Orang-orang seperti inilah yang mampu memberikan jaminan kepada diri kita ketika kita mengikrar janji dengannya.
Orang-orang seperti inilah yang memberikan jaminan ketenangan pada hati kita, sebuah jaminan tak tertulis, bahwa kita tidak akan dikecewakan, di masa depan :)




Gambar2 diambil dari sini: http://quotesgram.com/commitment-quotes/
PS: Quote nya bagus2 :D

Kamis, 21 Januari 2016

Sekilas Tentang Depresi


Depresi adalah suasana hati yang buruk dan berlangsung selama kurun waktu tertentu. Ketika mengalami depresi kita akan merasa sedih berkepanjangan, putus harapan, tidak punya motivasi untuk beraktivitas, kehilangan ketertarikan pada hal-hal yang dulunya menghibur, dan menyalahkan diri sendiri.
Semua orang pernah merasa sedih, tapi ketika kita mengalami depresi, suasana hati yang sedih berlangsung hingga berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan. Kondisi ini akan sangat memengaruhi perasaan, perilaku, dan pola berpikir Anda.
Banyak orang yang menganggap depresi adalah sesuatu yang sepele dan bisa hilang dengan sendirinya, padahal sebenarnya depresi adalah bentuk suatu penyakit yang lebih dari sekadar perubahan emosi sementara. Depresi bukanlah kondisi yang bisa diubah dengan cepat atau secara langsung.
Akibat depresi, kegiatan sehari-hari seperti bersekolah atau bekerja menjadi tidak menyenangkan. Bahkan untuk mempertahankan hubungan dengan orang lain maupun keluarga sendiri terasa begitu berat. Depresi bisa membuat Anda merasa hidup ini tidak ada gunanya, bahkan dapat memicu penderita untuk melakukan bunuh diri.
Menurut catatan WHO, setidaknya 350 juta orang mengalami depresi di dunia. Masih banyak penderita depresi yang tidak mengakui kondisi mereka, sehingga tidak pernah ditangani atau setidaknya dibicarakan. Depresi lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan laki-laki.
Terdapat hampir satu juta orang di dunia melakukan bunuh diri akibat depresi. Diperkirakan dari dua puluh orang yang berniat untuk melakukan bunuh diri, satu orang dari mereka berakhir tewas.

Gejala yang Muncul pada Penderita Depresi

Gejala dan juga pengaruh depresi berbeda-beda pada berbagai orang. Berikut ini adalah beberapa gejala psikologi yang muncul akibat depresi:
  • Kehilangan selera untuk menikmati hobi.
  • Merasa bersedih secara berkepanjangan.
  • Mudah merasa cemas.
  • Merasa hidup tidak ada harapan.
  • Mudah menangis.
  • Merasa sangat bersalah.
  • Tidak percaya diri.
  • Menjadi sangat sensitif atau mudah marah terhadap orang di sekitar.
  • Tidak ada motivasi untuk melakukan apa pun.
Menurut Diagnostic and Statistical Manual IV - Text Revision (DSM IV-TR) (American Psychiatric Association, 2000), seseorang menderita gangguan depresi jika: Lima (atau lebih) gejala di bawah telah ada selama periode dua minggu dan merupakan perubahan dari keadaan biasa seseorang; sekurangnya salah satu gejala harus (1) emosi depresi atau (2) kehilangan minat atau kemampuan menikmati sesuatu.
  1. Keadaan emosi depresi/tertekan sebagian besar waktu dalam satu hari, hampir setiap hari, yang ditandai oleh laporan subjektif (misal: rasa sedih atau hampa) atau pengamatan orang lain (misal: terlihat seperti ingin menangis).
  2. Kehilangan minat atau rasa nikmat terhadap semua, atau hampir semua kegiatan sebagian besar waktu dalam satu hari, hampir setiap hari (ditandai oleh laporan subjektif atau pengamatan orang lain)
  3. Hilangnya berat badan yang signifikan saat tidak melakukan diet atau bertambahnya berat badan secara signifikan (misal: perubahan berat badan lebih dari 5% berat badan sebelumnya dalam satu bulan)
  4. Insomnia atau hipersomnia hampir setiap hari
  5. Kegelisahan atau kelambatan psikomotor hampir setiap hari (dapat diamati oleh orang lain, bukan hanya perasaan subjektif akan kegelisahan atau merasa lambat)
  6. Perasaan lelah atau kehilangan kekuatan hampir setiap hari
  7. Perasaan tidak berharga atau perasaan bersalah yang berlebihan atau tidak wajar(bisa merupakan delusi), dan mengganggap bahwa sumber dari setiap masalah adalah dirinya
  8. Berkurangnya kemampuan untuk berpikir atau berkonsentrasi, atau sulit membuat keputusan, hampir setiap hari (ditandai oleh laporan subjektif atau pengamatan orang lain)
  9. Berulang-kali muncul pikiran akan kematian (bukan hanya takut mati), berulang-kali muncul pikiran untuk bunuh diri tanpa rencana yang jelas, atau usaha bunuh diri atau rencana yang spesifik untuk mengakhiri nyawa sendiri


Tanpa penanganan dan pengobatan yang tepat, depresi bisa mengganggu hubungan dengan orang di sekitar Anda. Untuk depresi yang berat atau parah, depresi bisa berakibat pada hilangnya hasrat untuk hidup dan keinginan untuk bunuh diri.
Ketika merasakan beberapa gejala depresi yang bertahan lebih dari beberapa hari, segera menemui dokter agar proses pemulihan bisa dimulai dan dilakukan sepenuhnya.

Penyebab Munculnya Depresi

Tidak ada satu pun penyebab depresi secara spesifik. Depresi terpicu oleh kombinasi beberapa faktor. Jika di dalam riwayat kesehatan keluarga Anda terdapat orang yang menderita depresi, maka terdapat kecenderungan bagi Anda untuk mengalaminya juga. Beberapa faktor yang bisa memicu terjadinya depresi antara lain:
  • Kejadian tragis atau signifikan seperti kehilangan seseorang atau pun pekerjaan.
  • Melahirkan.
  • Masalah keuangan.
  • Terisolasi secara sosial.
  • Trauma masa kecil.
  • Ketergantungan terhadap narkoba dan/atau alkohol.
Selain hal-hal di atas, beberapa kondisi medis juga bisa memicu depresi pada penderitanya seperti penyakit jantung koroner, kelenjar tiroid yang kurang aktif, dan akibat cedera pada kepala sebelumnya.

Pengobatan pada Depresi

Teknik pengobatan dan perawatan depresi sangat tergantung kepada jenis dan penyebab dari depresi yang dialami. Terdapat berbagai jenis obat antidepresan yang bisa digunakan dan beberapa penanganan yang bisa dilakukan sendiri.
Perubahan hidup seperti sering berolahraga dan mengurangi konsumsi minuman beralkohol dapat memberikan keuntungan bagi penderita depresi. Anda juga bisa bergabung dengan kelompok-kelompok terapi untuk berbagi cerita dan saling memberi dukungan.
Akibat dari depresi yang paling parah adalah kecenderungan untuk melakukan bunuh diri. Cobalah untuk selalu berbagi cerita kepada orang-orang terdekat Anda tentang masalah yang sedang dihadapi. Penderita juga sangat disarankan untuk menemui dokter terutama jika depresi telah berlangsung lama atau parah. Makin dini penanganan depresi, kemungkinan pemulihan secara menyeluruh bisa didapatkan.

Sumber:
http://www.alodokter.com/depresi/
https://id.wikipedia.org/wiki/Depresi_(psikologi)

Nasihat Terakhir Rasulullah

Nasihat terakhir Rasulullah Salallahu alaihi wasallam:

'Alaikum bish shalah wa maa malakat aymanukum

"Kewajiban atasmu sholat, dan kewajiban atas orang-orang yang ada di pundakmu"

Dari buku Jaminan,
Oleh: Ust. Yusuf Mansur

Manusia dan Masalah



Banyak yang bilang, kehidupan manusia itu identik dengan masalah. Dua hal yang tidak akan dapat dipisahkan. Selama manusia itu hidup, bernyawa, maka selama itu pula ia harus berhadapan dengan masalah. Bahkan orang gila, autis dll. pun juga tidak lepas dari masalah. Dalam sebuah tulisan, saya pernah baca, besar kecilnya masalah itu sebanding dengan cara kita menyikapinya. 

Ketika kita menganggap masalah itu besar dan penting, maka semakin beratlah otak kita bekerja untuk memikirkannya. Masalah-masalah yang kita anggap besar ini, apalagi ketika belum terselesaikan, maka akan selalu muncul dalam pikiran kita tanpa kita dengan sengaja memikirkannya. Mungkin ini memang sudah sunnatullah dimana otak tanpa diperintah akan berusaha untuk memikirkan solusinya. Lebih dari itu, kadang masalah yang kita anggap besar bisa membuat kita depresi dan mengurangi semangat hidup.

Sebaliknya, ketika kita menganggap masalah itu kecil atau sepele, akan dengan mudah kita mencarikan solusi-solusi praktis, bahkan lebih dari itu, mudah pula bagi kita untuk melupakannya. Meskipun menyepelekan masalah besar bukanlah hal yang baik dalam konteks men-solusikan masalah, namun, ini perlu diapresiasi, karena terkadang tidak mudah untuk menyepelekan sebuah masalah. Dengan kata lain, tidak mudah untuk melatih otak kita agar mampu menganggap masalah yang besar itu tidak sebesar yang kita bayangkan. 

Kenapa penting untuk mengecilkan masalah? Kembali ke filosofi yang tadi, masalah itu besar ketika kita menganggap ia besar, dan kecil ketika kita menganggap ia kecil. Nah, disini masalahnya. Besar kecilnya sebuah masalah dalam diri kita amat tergantung pada perspektif kita. Akan sangat rugi ketika masalah yang harusnya kecil, malah kita anggap besar. Akibatnya? Otak kita lelah memikirkannya, waktu kita habis, kadang hati dan fisik pun ikut terzolimi akibat terlalu banyak memikirkan masalah yang kita anggap besar ini. Selain itu, pentingnya mengecilkan sebuah masalah, karena terkadang kita butuh waktu untuk mengumpulkan kekuatan dan berfikir lebih tenang dalam menghadapinya. Ini opini saya, karena bisa jadi, masalah yang kita anggap besar itu, tidak sebesar yang kita bayangkan, dan bisa jadi, masih banyak masalah lain yang justru lebih besar namun luput dari perhatian kita

Maka dari itu, penting untuk belajar mengukur sebuah masalah. Lihatlah sebuah masalah dari berbagai sudut pandang. Perbanyak bertukar pikiran dengan orang lain. Yang tak kalah penting lagi, selalu lah bertawakkal kepada Allah SWT. Yakinlah bahwa semuanya diatur oleh Allah SWT. Jangan pernah bercemas diri, lebih-lebih mencemaskan masa depan. Serahkan semua pada Allah SWT dan jangan sampai masalah membuat kita depresi lebih-lebih menghancurkan diri kita sendiri. Perbanyak beribadah dan mintakan solusinya kepada Allah SWT.

Senin, 07 Desember 2015

Kisah Tabi'in: Hasan Al-Bashri

"Sesungguhnya perumpamaan dunia dan akhirat adalah seperti timur dan barat, bila satu mendekat, maka yang lain akan menjauh ... dunia diawali dengan kesulitan dan diakhiri dengan kebinasaan, yang halal akan dihisab dan yang haram akan berujung siksa. Yang kaya akan menghadapi ujian dan fitnah, sedang yang miskin selalu dalam kesusahan." -Hasan Al-Bashri


Telah datang berita gembira kepada istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ummu Salamah, bahwa budaknya yang bernama Khairah telah melahirkan seorang bayi laki-laki.
Ummul Mukminin hanyut dalam kegembiraan dan wajahnya tampak ceria dan berseri-seri. Dia mengutus seseorang untuk membawa ibu dan bayinya ke rumah selama masa-masa pemulihan pasca melahirkan. Khairah adalah budak yang paling beliau sayangi dan beliau telah rindu menantikan kelahiran bayi pertama dari budaknya itu.
Tak lama setelah itu Khairah pun datang dengan bayi di gendongannya. Ketika Ummu Salamah memandangnya, beliau langsung menyukai bayi itu karena wajahnya yang tampan dan cerah, menarik hati siapapun yang memandangnya.
Ummu Salamah bertanya kepada budaknya: “Sudahkah engkau memberikan nama untuknya wahai Khairah?” Khairah menjawab: “Belum, aku ingin Anda-lah yang memilihkan nama untuknya sesuka Anda.”
Ummu Salamah berkata, “Kita akan memberi nama yang diberkahi Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu Hasan.” Lalu beliau mengangkat tangannya untuk mendoakan kebaikan bagi sang bayi.
Kebahagiaan atas kelahiran Hasan itu tidak hanya dirasakan oleh keluarga Ummul Mukminin Ummu Salamah saja. Namun juga dirasakan oleh seisi rumah di Madinah, yaitu di rumah sahabat utama yang juga penulis wahyu Rasulullah, Zaid bin Tsabit. Sebab ayah si bayi, yakni Yasaar, adalah budak Zaid bin Tsabit yang paling disayangi dan diutamakan di antara budak yang lain.
Hasan bin Yassar (yang pada akhirnya lebih terkenal dengan sebutan Hasan al-Bashri) tumbuh di salah satu rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, besar di pangkuan salah satu istri beliau, yaitu Hindun binti Suhail yang lebih sering dipanggil dengan Ummu Salamah.
Adapun Ummu Salamah –kalau pembaca belum tahu- adalah seorang wanita Arab yang termasuk paling sempurna akalnya, banyak keutamaannya, dan teguh pendiriannya. Beliau juga termasuk istri nabi yang paling luas pengetahuannya dan paling banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah. Beliau meriwayatkan sebanyak 387 hadis. Beliau juga termasuk dari sedikit bilangan wanita di masa jahiliyah yang mampu baca-tulis.
Hubungan bayi yang beruntung itu dengan Ummu Salamah tidak hanya sebatas itu. Lebih jauh lagi, karena seringkali ibunda beliau, Khairah, harus keluar dari rumah untuk mengurus kebutuhan Ummul Mukminin sehingga harus meninggalkan bayinya. Bila sang bayi menangis karena lapar, maka Ummul Mukminin meletakkan bayi itu di pangkuannya, lalu disusui supaya diam. Karena rasa cintanya terhadap bayi itu, Ummul Mukminin bisa mengeluarkan air susu yang kemudian diminum oleh si bayi hingga merasakan kenyang dan diam dari tangisnya. Dengan demikian, kedudukan Ummu Salamah bagi Hasan al-Bashri adalah sebagai ibu dalam dua sisi. Pertama karena Hasan al-Bashri adalah seorang dari mukminin sedang Ummu Salamah adalah Ummul Mukminin. Kedua Ummu Salamah adalah ibu susuan bagi beliau.
Anak ini meraih kesempatan emas untuk bergaul dengan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebab rumah-rumah mereka berdekatan sehingga ia bisa bermain dari satu rumah ke rumah yang lain. Sudah barang tentu akhlak beliau terwarnai oleh para penghuni rumah itu dan mendapatkan bimbingan dari mereka.
Seperti yang diceritakan oleh Hasan al-Bashri sendiri, dia mengisi rumah Ummul Mukminin dengan ketangkasannya yang menyenangkan. Sering dia naik ke atap rumah lalu berpindah-pindah dengan lincahnya.
Hasan dibesarkan dalam suasana yang diterangi oleh cahaya nubuwah dan meneguk sumber air jernih (ilmu) yang tersedia di rumah-rumah ummahatul mukminin. Beliau juga berguru kepada sahabat-sahabat utama di Masjid Nabawi. Beliau meriwayatkan dari Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Musa al-Asy’ari, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Anas bin Malik, Jabir bin Abdillah dan lain-lain.
Meski demikian, kekaguman yang paling menonjol jatuh kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Dia mengagumi keteguhan agamanya, ketekunan ibadahnya, kezuhudannya terhadap kesenangan dunia, kefasihan lidahnya, hikmah-hikmahnya yang berkesan di hatinya, kemantapan tutur katanya dan nasihat-nasihatnya yang menggetarkan hati. Sehingga beliau berusaha berakhlak dengannya dalam hal takwa dan ibadah serta mengikuti jejaknya dalam memberikan keterangan dan kefasihan bahasanya.
Menginjak usia 14 tahun, ketika memasuki usia remaja, beliau berpindah bersama kedua orang tuanya ke Bashrah dan menetap di sana. Dari sinilah muncul julukan al-Bashri, yang dinisbahkan pada kota Bashrah. Lalu keutamaan beliau mulai dikenal orang-orang di Bashrah.
Di saat Hasan al-Bashri menjadi imam, kota Bashrah merupakan benteng Islam yang terbesar dalam bidang ilmu pengetahuan. Masjidnya yang agung penuh dengan para sahabat dan tabi’in yang hijrah ke sana dan halaqah-halaqah keilmuan dengan beraneka ragam dan coraknya memakmurkan masjid-masjid dan suraunya.
Hasan al-Bashri tinggal di masjid itu dan menekuni halaqah Abdullah bin Abbas, Habru umati Muhammad (Ustadnya umat Muhammad). Dia mengambil pelajaran tafsir, hadis, qiraah, fiqh, adab, bahasa dan sebagainya. Hingga beliau menjadi seorang ulama besar dan fuqaha yang terpercaya.
Maka, umat banyak menggali ilmunya, mendantangi majelisnya serta mendengarkan ceramahnya yang mampu melunakkan jiwa-jiwa yang keras dan mencucurkan air mata orang-orang yang terlanjur berbuat dosa. Banyak orang terpikat dengan hikmahnya yang mempesona.
Nama Hasan al-Bashri telah menyebar di seluruh daerah dan dikenal di mana-mana.
Para gubernur dan khalifah menanyakan dan mengikuti beritanya.
Khalid bin Shafwan bercerita. “Aku bertemu dengan Maslamah bin Abdul Malik di daerah Hirah, beliau berkata, ‘Wahai Khalid, ceritakan kepadaku tentang Hasan al-Bashri, aku rasa engkau lebih mengenalnya dari yang lain.”
Aku berkata, “Semoga Allah menjaga Anda. Saya sebaik-baik orang yang akan memberikan keterangan tentang Hasan al-Bashri wahai Amir, karena saya adalah tetangga sekaligus muridnya yang setia. Saya lebih mengenal beliau daripada orang Bashrah lainnya’.”
Beliau berkata, “Ceritakan apa yang Anda ketahui tentangnya.” Saya berkata, ‘Beliau adalah orang yang hatinya sama dengan lahiriyahnya, perkataannya serasi dengan perbuatannya. Jika menyuruh perkara yang ma’ruf, maka beliau pula yang paling sanggup melakukannya. Jika melarang yang mungkar, beliau pula yang paling mampu meninggalkannya. Saya mendapatinya sebagai orang yang tidak memerlukan pemberian; dan zuhud terhadap apa yang ada di tangan orang lain. Sebaliknya saya dapati betapa orang-orang memerlukan dan menginginkan apa yang dimilikinya.”
Maslamah berkata, “Cukup wahai Khalid, cukup. Bagaimana kaum itu bisa sesat, bila ada orang semisal dia di tengah-tengah mereka?”
Ketika Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi berkuasa di Irak, bertindak sewenang-wenang dan kejam di wilayahnya, Hasan al-Bashri adalah termasuk dalam bilangan sedikit orang yang berani menentang dan mengecam keras akan kezaliman penguasa itu secara terang-terangan.
Suatu ketika, Hajjaj membangun istana yang megah untuk dirinya di kota Wasit. Ketika pembangunan selesai, diundangnya orang-orang untuk melihat dan mendoakannya. Hasan al-Bashri tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang baik di mana banyak orang sedang berkumpul. Dia tampil memberikan ceramah, mengingatkan mereka agar bersikap zuhud di dunia dan menganjurkan manusia untuk mengejar apa yang ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Begitulah, ketika Hasan al-Bashri tiba di tempat itu dan melihat begitu banyak orang-orang mengelilingi istana yang megah dan indah dengan halamannya yang luas, beliau berdiri untuk berkhutbah. Di antara yang beliau sampaikan adalah: “Kita mengetahui apa yang dibangun oleh manusia yang paling kejam dan kita dapati Fir’aun yang membangun istana yang lebih besar dan lebih megah daripada bangunan ini. Namun kemudian Allah membinasakan Fir’aun beserta apa yang dibangunnya. Andai saja Hajjaj bahwa penghuni langit telah membencinya dan penduduk bumi telah memperdayakannya…”
Beliau terus mengkritik dan mengecam hingga beberapa orang mengkhawatirkan keselamatannya dan memintanya berhenti: “Cukup Wahai Abu Sa’id, cukup.”
Namun Hasan al-Bashri berkata, “Wahai saudaraku, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengambil sumpah dari ulama agar menyampaikan kebenaran kepada manusia dan tak boleh menyembunyikannya.”
Keesokan harinya Hajjaj menghadiri pertemuan bersama para pejabatnya dengan memendam amarah dan berkata keras: “Celakalah kalian! Seorang dari budak-budak Basrah itu memaki-maki kita dengan seenaknya dan tak seorang pun dari kalian berani mencegah dan menjawabnya. Demi Allah, akan kuminumkan darahnya kepada kalian wahai para pengecut!”
Hajjaj memerintahkan pengawalnya untuk menyiapkan pedang beserta algojonya dan menyuruh polisi untuk menangkap Hasan al-Basri.
Dibawalah Hasan al-Basri, semua mata mengarah kepadanya dan hati mulai berdebar menunggu nasibnya. Begitu Hasan al-Basri melihat algojo dan pedangnya yang terhunus dekat tempat hukuman mati, beliau menggerakkan bibirnya membaca sesuatu. Lalu berjalan mendekati Hajjaj dengan ketabahan seorang mukmin, kewibawaan seorang muslim, dan kehormatan seorang da’i di jalan Allah.
Demi melihat ketegaran yang demikian, mental Hajjaj menjadi ciut. Terpengaruh oleh wibawa Hasan al-Basri, dia berkata ramah: “Silahkan duduk di sini wahai Abu  Sa’id, silahkan..”
Seluruh yang hadir menjadi bengong dan terheran-heran melihat perilaku amirnya yang mempersilahkan Hasan al-Basri duduk di kursinya. Sementara itu, dengan tenang dan penuh waibawa Hasan al-Basri duduk di tempat yang disediakan. Hajjaj menoleh kepadanya lalu menanyakan berbagai masalah agama, dan dijawab Hasan al-Basri dengan jawaban-jawaban yang menarik dan mencerminkan pengetahuannya yang luas.
Merasa cukup dengan pertanyaan yang diajukan, Hajjaj berkata, “Wahai Abu Sa’id, Anda benar-benar tokoh ulama yang hebat.” Dia semprotkan minyak ke jenggot Hasan al-Basri lalu diantarkan sampai di depan pintu.
Sesampainya di luar istana, pengawal yang mengikuti Hasan al-Basri berkata, “Wahai Abu Sa’id sesungguhnya Hajjaj memanggil Anda untuk suatu urusan yang lain. Ketika Anda masuk dan melihat algojo dengan pedangnya yang terhunus, saya lihat Anda membaca sesuatu, apa sebenarnya yang Anda lalukan ketika itu?”
Beliau berkata, (Aku berdoa) “Wahai Yang Maha Melindungi dan tempatku bersandar dalam kesulitan, jadikanlah amarahnya menjadi dingin dan menjadi keselamatan bagiku sebagaimana Engkau jadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.”
Kejadian serupa sering dialami Hasan al-Basri berhubungan dengan para wali negeri dan amir, di mana beliau selalu lolos dari setiap kesulitan tanpa menjatuhkan wibawanya di mata para penguasa tersebut dengan lindungan dan pemeliharaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Setelah wafatnya khalifah yang zuhud Umar bin Abdul Aziz, kekuasaan beralih ke tangan Yazid bin Abdul Malik. Khalifah baru ini mengangkat Umar bin Hubairah al-Faraqi sebagai gubernur Irak sampai Khurasan. Yazid ditengarai telah berjalan tidak seperti jalannya kaum salaf yang agung. Dia senantiasa mengirim surat kepada walinya, Umar bin Hubairah agar melaksanakan perintah-perintah yang ada kalanya melenceng dari kebenaran.
Untuk memecahkan problem itu, Umar bin Hubairah memanggil para ulama di antaranya asy-Sya’bi dan Hasan al-Basri. Dia berkata: “Sesungguhnya Amirul Mukminin, Yazid bin Abdul Malik telah diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai khalifah atas hamba-hamba-Nya. Sehingga wajib ditaati dan aku diangkat sebagai walinya di negeri Irak sampai kupandang tidak adil. Dalam keadaan yang demikian, bisakah kalian memberikan jalan keluar untukku, apakah aku harus menaati perintah-perintahnya yang bertentangan dengan agama?”
Asy-Sya’bi menjawab dengan jawaban yang lunak dan sesuai dengan jalan pikiran pemimpinnya itu, sedangkan Hasan al-Basri tidak berkomentar sehingga Umar menoleh kepadanya dan bertanya, “Wahai Abu Sa’id, bagaimana pendapatmu?”
Beliau berkata, “Wahai Ibnu Hubairah, takutlah kepada Allah atas Yazid dan jangan takut kepada Yazid karena Allah. Sebab ketahuilah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala bisa menyelamatkanmu dari Yazid, sedangkan Yazid tak mampu menyelamatkanmu dari murka Allah. Wahai Ibnu Hubairah, aku khawatir akan datang kepadamu malaikat maut yang keras dan tak pernah menentang perintah Rabb-nya lalu memindahkanmu dari istana yang luas ini menuju liang kubur yang sempit. Di situ engkau tidak akan bertemu dengan Yazid. Yang kau jumpai hanyalah amalmu yang tidak sesuai dengan perintah Rabb-mu dan Rabb Yazid.”
“Wahai Ibnu Hubairah, bila engkau bersandar kepada Allah dan taat kepada-Nya, maka Dia akan menahan segala kejahatan Yazid bin Abdul Malik atasmu di dunia dan akhirat. Namun jika engkau lebih suka menyertai Yazid dalam bermaksiat kepada Allah, niscaya Dia akan membiarkanmu dalam genggaman Yazid. Dan sadarilah wahai Ibnu Hubairah, tidak ada ketaatan bagi makhluk, siapapun dia, bila untuk bermaksiat kepada Allah.”
Umar bin Hubairah menangis hingga basah jenggotnya karena terkesan mendengarnya. Dia berpaling dari asy-Sya’bi kepada Hasan al-Basri, Umar semakin bertambah hormat dan memuliakannya. Setelah kedua ulama itu keluar dan menuju ke masjid, orang-orang pun datang berkerumun ingin mengetahui berita pertemuan mereka dengan amir Irak tersebut.
Asy-Sya’bi menemui mereka dan berkata; “Wahai kaum barangsiapa mampu mengutamakan Allah atas makhluk-Nya dalam segala keadaan dan masalah, maka lakukanlah. Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, semua yang dikatakan Hasan al-Basri kepada Umar bin Hubairah juga aku ketahui. Tapi yang kusampaikan kepadanya adalah untuk wajahnya, sedangkan Hasan al-Basri menyampaikan kata-katanya demi mengharap wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka aku disingkirkan Allah Subhanahu wa Ta’aladari Ibnu Hubairah, sedangkan Hasan al-Basri didekati dan dicintai…”
Allah memberikan karunia umur kepada Hasan al-Basri hingga berusia lebih dari 80 tahun dan telah memenuhi dunia ini dengan ilmu, hikmah dan fiqih. Warisan yang diunggulkannya bagi generasi kini di antaranya adalah kehalusan dan nasihat-nasihatnya yang mampu menyegarkan jiwa  dan mampu menyentuh hati, menjadi petunjuk bagi mereka yang lalai akan hakikat kehidupan dunia serta ihwal manusia dalam menyikapi dunia.
Beliau pernah ditanya oleh seseorang tentang dunia dan keadaannya. Beliau berkata, “Anda bertanya tentang dunia dan akhirat. Sesungguhnya perumpamaan dunia dan akhirat adalah seperti timur dan barat, bila satu mendekat, maka yang lain akan menjauh.”
Dan Anda memintaku supaya menggambarkan tentang keadaan dunia ini. Maka aku katakan bahwa dunia diawali dengan kesulitan dan diakhiri dengan kebinasaan, yang halal akan dihisab dan yang haram akan berujung siksa. Yang kaya akan menghadapi ujian dan fitnah, sedang yang miskin selalu dalam kesusahan.”
Adapun jawaban terhadap pertanyaan orang lain tentang keadaannya dan keadaan orang lain dalam menyikapi dunia beliau berkata, “Duhai celaka, apa yang telah kita perbuat atas diri kita? Kita telah menelantarkan agama kita dan menggemukkan dunia kita, kita rusak akhlak kita dan kita perbaharui rumah, ranjang serta pakaian kita. Bertumpu pada tangan kiri, lalu memakan harta yang bukan haknya.
Makanannya hasil menipu, amalnya karena terpaksa, ingin yang manis setelah yang asam, ingin yang panas setelah yang dingin, ingin yang basah setelah yang kering, hingga manakala telah penuh perutnya ia berkata, “Wahai anakku, ambill obat pencerna.” Hai orang yang dungu, sesungguhnya yang kau cerna itu adalah agamamu.
Mana tetanggamu yang lapar?
Mana yatim-yatim kaummu yang lapar?
Mana orang miskin yang menantikan uluranmu?
Mana nasihat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan rasul-Nya?
Kalau saja engkau sadari hisabmu. Tiap kali terbenam matahari, berkuranglah satu hari usiamu dan lenyaplah sebagian yang ada padamu.”
Kamis malam di bulan Rajab 110 H, Hasan al-Basri pergi memenuhi panggilan Rabb-nya. Pagi harinya menjadi pagi duka cita bagi kota Bashrah.
Jenazahnya dimandikan, dikafani dan dishalatkan setelah shalat Jumat di masjid Jami Basrah, masjid tempat di mana beliau menghabiskan banyak waktu hidupnya, belajar dan mengajar serta menyeru ke jalan Allah.
Orang-orang mengiringkan jenazahnya dan hari itu tak ada shalat ashar di Masjid Jami tersebut karena tak ada yang menegakkannya. Dan shalat jamaah ashar tidak pernah absen sejak dibangunnya masjid itu kecuali di hari itu. Hari di mana Hasan al-Basri berpulang ke haribaan Rabb-nya.
Sumber: Mereka adalah Para Tabi’in, Dr. Abdurrahman Ra’at Basya, At-Tibyan, Cetakan VIII, 2009



~(^_^)~


Jumat, 04 Desember 2015

Matahari - by Berlian Hutauruk



Matahari - by Berlian Hutauruk (OST Badai Pasti Berlalu 1977)

Musim berlalu

Resah menanti
Matahari pagi
Bersinar gelisah.. kini

Semua bukan milikku
Musim itu tlah berlalu
Matahari segra berganti

*
Dimana kau timbun daun yang layu
Makin gelisah aku menanti matahari
Dalam rindang kabut pagi
Sampai kapankah aku harus menanti

Awan yang hitam tenggelam dalam dekapan 
Daun yang layu berguguran di pangkuan
Kapan badai pasti berlalu
Resah aku menunggu
Kapan badai pasti berlalu badai pasti berlalu

huhuhu..huhuhu.. huhuhu..

back to *

Musim berlalu
Resah menanti
Matahari pagi

Bersinar gelisah.. kini


Btw, saya suka bagian yang *



~(^_^)~