Jumat, 17 Maret 2017

Al Kahfi - 110



قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا


Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".

https://quran.com/18

Rabu, 27 Juli 2016

It's Only Words

Ini ngga ada hubungan dengan perasaan. Cuma lagunya enak di dengar :)

Words by Boyzone:




"Words" is a song by the Bee Gees, written by Barry, Robin & Maurice Gibb
https://en.wikipedia.org/wiki/Words_(Bee_Gees_song)

Minggu, 22 Mei 2016

About Life

Ada tiga hal yang kupelajari dari hidup:

Tanggung Jawab kita besar, Waktu kita sedikit, dan Godaan kita banyak.

Tiga hal ini yang saling terkait dan mengikat kita dalam hidup. Saya coba list sedikit tanggung jawab yang saat ini terlintas di pikiran saya:
Sebagai manusia, kita punya tanggung jawab moral, tanggung jawab sosial dan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Sebagai bagian dari keluarga, kita punya tanggung jawab terhadap keluarga.
Sebagai manusia yang dititipkan harta, kita punya tanggung jawab terhadap harta
Sebagai pihak yang diberikan waktu oleh Allah, kita punya tanggung jawab terhadap waktu
Kita juga punya tanggung jawab untuk menggali dan menimba ilmu, khususnya ilmu agama.
Dan semua itu dirangkum menjadi tanggung jawab kita sebagai ciptaan Allah dalam kewajiban kita untuk menyembah, beriman, dan bertaqwa kepada-Nya.

Tanggung jawab yang besar dan waktu yang sempit. Kira-kira berapa umur kita? Rasulullah SAW dititipkan usia 63 tahun. Jika kita berpatokan pada angka tersebut, dengan asumsi rata-rata usia kita 60an tahun, maka pertanyaannya, apakah 60 tahun itu waktu yang cukup? Coba kita buka Al Quran, ada sekitar 6000 ayat yang harus kita pelajari, karena inilah pedoman hidup bukan? Maka sewajarnya, agar bisa hidup sesuai koridor yang diajarkan islam, maka 6000 ayat ini sudah seharusnya kita kuasai. Apakah itu cukup? Belum, masih ada ribuan hadist yang mesti kita pelajari, karena ada dua sebab diterimanya sebuah amal, i'tibar dan ikhlas. I'tibar dimana kita harus mengikuti sunnah dan contoh yang diberikan Rasulullah SAW dalam menunaikan setiap ibadah.

Well, waktu belajar juga mesti kita imbangi dengan mempelajari ilmu-ilmu berkaitan dengan dunia seperti yang telah sebagian besar kita tempuh, mulai dari bangku SD hingga bangku kuliah. Sedikit saya singgung, adanya, waktu belajar kita lebih banyak yang terbalik, waktu yang kita habiskan untuk mempelajari ilmu duniawi lebih banyak dibandingkan ilmu agama. Termasuk saya.

Itu baru dari segi tanggung jawab belajar. Belum lagi tanggung jawab - tanggung jawab lain yang membebani pundak seperti sedikit yang saya sebutkan di awal tadi.

Nah, dengan waktu yang sedikit dan tanggung jawab yang besar ini, kita dibebankan lagi dengan godaan yang begitu banyak. TV, internet, film, lebih-lebih kasur menjadi godaan yang begitu besar untuk mengalihkan penggunaan waktu kita menjadi sia-sia. Bukan tidak mungkin (asumsikan) 60 tahun kita hidup, lebih banyak waktu yang kita sia-siakan ketimbang yang kita manfaatkan. Padahal hakikatnya dunia ini adalah tempat singgah dan berbekal untuk perjalanan kita yang lebih panjang. Panjang? Iyap, bahkan manusia-manusia dari zaman nabi adam as pun sampai saat ini masih menunggu hari berbangkit. Dan bisa jadi kita yang mati kelak, akan menunggu ribuan tahun lagi, Wallahu'alam. Dan setelah dibangkitkan, masih ada tahapan proses yang begitu panjang -yang bisa anda pelajari sendiri- hingga akhirnya nanti -semoga- kita beristirahat di syurga (aamiin).

Kesimpulannya? Percayalah kita tidak akan selamat jika mengandalkan kemampuan sendiri.

Lebih kurang, seorang ustad pernah mencoba memaknai surah Al Fatihah sebagai berikut:

(1) Awali semua dengan menyebut asma Allah. Ia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
(2) Segala puji hanya milik Allah. Maka selayaknya tidak ada puja dan puji bagi selain Allah, yaitu Tuhan seluruh alam.
(3) Allah tegaskan sekali lagi bahwa Ia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
(4) Tapi ingat, akan ada hari pembalasan dimana semua amal akan dipertanggungjawabkan kepada-Nya
(5) Maka, sembahlah Ia dan mintalah pertolongan pada-Nya
(6) Mintalah agar Allah menunjukkan jalan yang lurus
(7) Apa itu jalan yang lurus? Yaitu jalan orang-orang yang diberi Nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.
Arrohmanirrahim -

Iyya kanasta'in, hanya kepada Allah lah kita memohon pertolongan. Inilah jawabannya. Dengan tanggung jawab yang besar, waktu yang sempit dan godaan yang begitu banyak, niscaya kita tidak akan selamat untuk hidup di dunia dan di akhirat kelak jika kita hanya bergantung pada kemampuan diri sendiri. Karena sesungguhnya:


Maka, mintalah pertolongan Allah agar Ia menunjukkan jalan yang lurus. Agar, dengan segala keterbatasan kita, kelak semoga dengan pertolongan Allah, kita diberikan keselamatan dan kebaikan hidup di dunia dan juga di akhirat. Aamiin


Senin, 11 April 2016

Senin, 28 Maret 2016

Nahkoda



Kuperhatikan sekeliling
Satu persatu kapal berlayar
Nahkoda-nahkoda tangguh
Dibersamai kru nan handal

Jangkar diangkat, layar dikembang
Teman, sahabat, bahkan saudara
Mulai meninggalkan dermaga
Kami melepas mereka dengan suka cita
Meski kadang perpisahan mengharu

Perjalanan panjang menanti
Tak sedikit kapal yang karam
Tak sedikit Nahkoda yang tumbang
Umurku muda, pengalaman pun tiada
Samudra begitu keras dan bekalku teramat minim

Kubulatkan tekad
Aku harus bersiap
Bukan karena tersaingi
Bukan pula karena dermaga ini kian sepi
Tapi inilah hakikat kami sebagai lelaki

Kadang,
Ingin rasanya aku berdiam disini
Di dermaga yang kian sepi
Bersenandung memperbaiki diri

Ah Tuhan,
Andai aku bisa lebih lama disini

Tapi...
Waktunya pasti akan tiba
Disaat aku menjadi Nahkoda
Maka bahtera ini bernama keluarga
Dan syurga adalah tujuan akhirnya


Selasa, 26 Januari 2016

Harga Sebuah Komitmen





Definisi Komitmen

Hidup manusia biasanya tak lepas dari komitmen. Setiap kita, siapapun kita, pasti pernah membuat sebuah komitmen terhadap sesuatu atau komitmen untuk melakukan sesuatu, baik itu komitmen pada diri kita sendiri maupun orang lain. Kata komitmen sendiri merupakan serapan dari bahasa inggris yang artinya:

"a ​willingness to give ​your ​time and ​energy to something that you ​believe in, or a ​promise or ​firm ​decision to do something"

Jika diartikan, maka, komitmen merupakan "sebuah kemauan/kesediaan untuk memberikan waktu dan tenaga untuk sesuatu yang kita percaya atau janji atau keputusan perusahaan untuk melakukan sesuatu". Secara sederhana KBBI mengartikannya sebagai "perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu". Dari sini dapat disimpulkan bahwa komitmen ialah kesediaan untuk memberikan waktu dan tenaga dalam rangka memenuhi janji. Namun, perlu diketahui bahwa janji tidak melulu diutarakan dengan kata-kata "janji". "Besok kita ketemu disini jam 7, ya", ucapan sederhana, namun ini merupakan salah satu contoh dari janji, dimana kita harus berkomitmen untuk memenuhinya.


Tipikal Manusia dalam Berkomitmen

Baik, disini saya akan menjelaskan bagaimana pentingnya berkomitmen dan karakter manusia dalam berkomitmen, menurut pandangan saya. Saya contohkan dengan ilustrasi berikut:

Ada dua orang sahabat, Ayu dan Lala, yang masih duduk dibangku sekolah dasar. Di akhir pekan, hari sabtu sepulang sekolah, keduanya sepakat untuk berenang bersama besok sore. Kebetulan, Ayu sangat suka main air. Namun, sayangnya, setibanya dirumah, orang tua Ayu telah membuat rencana untuk shopping keluarga di waktu yang sama. Sebenarnya, Ayu bukan tipe anak yang suka shopping, namun, orang tua Ayu merupakan tipikal yang keras kepala dan agak susah diajak bernegosiasi. Nah, dari kejadian ini, berikut beberapa contoh sikap yang mungkin diambil Ayu yang dapat kita jadikan sebagai refleksi.

1. Ayu paham karakter orang tuanya yang keras kepala, akhirnya ia memutuskan untuk ikut orang tuanya, tanpa bernegosiasi sedikitpun. Ayu yakin, keluarga lebih penting daripada teman. "Mungkin, Lala bisa berenang sendirian, atau pulang ke rumah setelah lelah menunggu beberapa menit", gumam Ayu. "Aku yakin, kalau lusa nanti kujelaskan, Lala pasti paham, aku tidak datang kan ada alasannya", pikir Ayu.

2. Ayu mencoba untuk bernegosiasi dengan orang tuanya, mengutarakan bahwa dia sudah membuat janji dengan sahabatnya. Sayangnya gagal. Bahkan sampai Ayu dibentak oleh Papanya karena tidak mau menuruti kata orang tua. Ia pun menyerah dan mengalah untuk tetap ikut shopping. Ayu mencoba berfikir positif, "Ya gapapa deh ga jadi renang, jalan-jalan dengan keluarga tentu tidak ada ruginya, toh patuh dengan orang tua, lebih utama", pikir Ayu. Disini, Ayu merasa ia berkorban demi keluarganya.

3. Sejak sabtu sore, Ayu berusaha membujuk kedua orang tuanya. Ia coba dekati ibunya, mengutarakan maksud hatinya, namun tetap ditolak. "Keluarga lebih penting", kata sang Ibu. "Lagian pasti akan terasa ada yang kurang dong kalau kamu nggak ikut", tambah si Ibu. Malam hari, Ayu berusaha kembali mendekati Ibunya. Seusai makan malam, Ia coba pasang muka manja. Sambil memijit pundak sang Ibu, Ayu kembali berusaha bernegosiasi, namun masih gagal. Berulang kali Ayu mencoba membujuk kedua orang tuanya. Dari sekedar mengutarakan niat, hingga merayu ia usahakan. Bahkan ia beranikan beberapa kali bermanja dengan si ayah yang keras kepala untuk membujuknya. Meski belasan kali usahanya ditolak, namun akhirnya, minggu siang, keluarganya pun mengizinkan.

4. Ayu berusaha bernegosiasi dengan kedua orang tuanya, mengutarakan bahwa ia sudah punya janji lain, namun gagal. Akhirnya minggu siang, Ayu kabur diam-diam sambil berpesan kepada adiknya, bahwa ia akan pulang malam.


Orang-Orang Yang Tidak Berkomitmen

Dari keempat skenario diatas, kita bisa pahami beberapa gambaran karakter Ayu yang berbeda, yang mungkin bisa kita refleksikan pada diri kita. Pada dua skenario pertama, terlihat bahwa Ayu akhirnya memutuskan untuk tidak pergi berenang, singkat kata, Ayu tidak komitmen. Mungkin Ayu merasa tidak akan ada masalah dengan Lala. Mungkin Ayu menganggap ini adalah hal sepele. Ia yakin Lala bisa paham kondisi yang ia hadapi. Ia pun yakin Lala akan pulang setelah menunggu beberapa menit. Tapi bagaimana jika itu tidak terjadi. Bagaimana jika Lala malah membenci Ayu dengan sikapnya yang seperti ini? Atau bagaimana jika Lala ternyata yakin bahwa Ayu akan datang dan menunggunya hingga menjelang malam?

Kita tidak tahu akibat apa yang dirasakan oleh orang yang kita langgar komitmen dengannya. Mungkin kita merasa dia akan baik-baik saja dan semua akan baik-baik saja. Namun, bisa jadi dugaan kita salah.
Bisa jadi Lala juga sangat ingin berenang bersama Ayu, hingga ia keluarkan effort yang mungkin tidak diduga Ayu, agar bisa berenang bersama.
Bisa jadi Lala bela-belain membongkar tabungannya, membujuk orang tuanya membeli peralatan renang secepatnya, namun Ayu tak datang.
Bisa jadi juga, Lala bela-belain membatalkan janjinya dengan orang lain sebelum mengajak Ayu berenang.

Sekali lagi, kita tidak pernah tahu apa yang dirasakan oleh orang yang kita langgar komitmen dengannya. Orang-orang yang tidak berkomitmen, tidak berusaha memegang komitmen, pada akhirnya akan merugikan dan melukai orang-orang disekitarnya. Mungkin ia merasa dirinya akan baik-baik saja. Namun belum tentu dengan orang lain yang ia berikan janji. Orang-orang seperti ini cenderung egois dan egosentris. Kadang mereka berfikir, jika melanggar komitmen, maka akan lebih banyak manfaat dibanding keburukan, bagi ia dan orang-orang disekitarnya. Tapi dengan keputusan ini, ia rela mengorbankan orang lain bahkan sahabatnya. Seperti kasus Ayu, ia berfikir bahwa dirinya telah berkorban demi keluarga. Namun, sebaliknya, yang Ia korbankan justru adalah sahabatnya dan kepercayaan sahabatnya. Ia merasa semua orang akan paham dengan situasi dan kondisi yang ia hadapi, bahkan tak jarang ia memaksakan agar orang lain bisa memahami itu. Maka disini kita paham, bukanlah ciri orang yang berkomitmen, yang dengan mudahnya mengkambinghitamkan keadaan dan situasi sebagai alasan melanggar janji.


Orang-Orang Yang Berusaha Memegang Komitmen

Sekarang, coba kita lihat skenario ke tiga dan ke empat. Disini terlihat bahwa Ayu berusaha untuk melaksanakan apa yang telah ia ucapkan. Di skenario ketiga, meskipun sulit, Ayu tetap berusaha pelan-pelan membujuk kedua orang tuanya. Bahkan, ia mencoba melunakkan sikapnya pada ayahnya untuk memperoleh perhatiannya. Berbagai cara ia lakukan dalam membujuk orang tuanya. Meski berkali-kali ditolak, tapi ia tetap tidak menyerah, karena ia yakin komitmen yang ia buat tidaklah salah.

Berbeda dengan skenario ke empat, sifat Ayu cenderung keras. Ia tidak coba kesampingkan keharusan orang tua untuk ikut shopping keluarga yang menurutnya tidak punya dasar. Akhirnya ia pun memutuskan untuk kabur karena ia yakin, janji lebih utama dan ia punya hak menolak ajakan orang tuanya yang hanya sekedar untuk shopping, namun tidak digubris oleh mereka. Beberapa tipe orang-orang yang memegang komitmen, ada yang seperti ini. Dimana komitmen adalah yang nomor satu dibanding yang lain. Mereka bahkan tidak melihat celah untuk melanggar komitmen.

Kedua skenario terakhir menunjukkan bahwa, untuk bisa menjadi pribadi yang berkomitmen, tidaklah harus melawan atau membangkang, terlebih pada orang tua. Bisa dengan cara membujuk dan merayu. Namun cara ini pasti lebih lama dan lebih sulit karena butuh kesabaran ekstra, terlebih jika berhadapan dengan orang yang keras kepala. Namun yakinlah, sekeras-kerasnya batu, pasti suatu saat akan hancur juga dengan tetesan-tetesan air. Asalkan kita sabar, dan mau berusaha, pasti Allah akan memberikan jalan.

Ketika kita sudah berkomitmen, maka lakukanlah. Jika ada hal lain yang membuat kita tidak bisa commit, maka tetaplah usahakan semaksimal mungkin untuk commit, karena pasti selalu ada cara untuk menepati janji jika kita mau berusaha. Atau jika datang ajakan lain yang membuat kita harus membatalkan komitmen, maka tolaklah, terlebih ketika kita memang punya hak untuk menolak. 

Orang-orang yang senantiasa berkomitmen, tentu akan disenangi dan membuat nyaman orang-orang disekitarnya.
Orang-orang seperti inilah yang mampu memberikan jaminan kepada diri kita ketika kita mengikrar janji dengannya.
Orang-orang seperti inilah yang memberikan jaminan ketenangan pada hati kita, sebuah jaminan tak tertulis, bahwa kita tidak akan dikecewakan, di masa depan :)




Gambar2 diambil dari sini: http://quotesgram.com/commitment-quotes/
PS: Quote nya bagus2 :D