Selasa, 06 November 2012

Kisah sendal-sendal


Sepasang sendal jepit
Merk ando
Berwarna putih
Tampilannya menarik
Dibeli dari sebuah mall dengan harga 30rb an
Bikin kaki lecet, susah dibawa jalan
Hilang di mesjid

Sepasang sendal jepit (lagi)
Merk (masih) ando
Berwarna coklat
Tapaknya tebal, penampilannya menarik
Dibeli dari sebuah mall dengan harga 40rb an
Bikin kaki lecet, berat
Bahkan di awal, pakai kaus kaki biar nggak sakit dibawa jalan
Hilang di mesjid (lagi)

(Lagi-lagi) Sepasang sendal jepit
Merk swallow
Berwarna putih biru
Penampilannya standar
Di beli dari sebuah warung dengan harga 12.500
Alhamdulillah, jauh lebih nyaman dari yang lain.
Tidak bikin kaki lecet.

Hikmah sempit : Belilah alas kaki yang nyaman, jangan cuma melirik tampilan
Hikmah luas : Jangan pernah memandang sesuatu dari rupa dan tampilannya, namun pandanglah dari segi kebermanfaatan yang ia berikan.
Hikmah dalam memilih pendamping : Jangan cari yang rupawan tapi membuat sakit, lebih baik cari yang penampilannya biasa tapi bisa memberi rasa nyaman. #sekaliSekaliPostingGalau
Hikmah lain : Allah Maha Mengetahui apa yang kita butuhkan dan apa yang tidak kita butuhkan. Besyukurlah ketika Allah menghilangkan sesuatu yang tidak memberi manfaat bagi kita apalagi sesuatu yang malah menyiksa kita (yang mungkin tidak kita sadari).

Nb : Semoga sendal-sendal yang hilang bisa memberi kebermanfaatan bagi siapa pun yang menggunakannya saat ini

Mohon do'a semoga kisah saya dan sendal swallow bisa langgeng sampai akhir hayatnya

Senin, 05 November 2012

Kisah empat bersaudara yang terpisah


Tak terasa tiga tahun lebih saya sudah mengarungi pendidikan di kampus ini. Hanya tinggal dua semester lagi yang harus saya selesaikan termasuk semester ini, insyaAllah. Semua perjuangan saya di kampus ini bisa dikatakan berawal dari negeri minangkabau, kota pantai, Padang. Kala itu saya sedang dalam proses mengikuti bimbingan belajar dan tinggal bersama kakek dan nenek di sebuah rumah bedeng sempit yang juga panas. Tidak ada rasa suntuk ataupun bosan, malah sebaliknya, saya sangat nyaman berada disana. Rumah sempit itu telah melahirkan sarjana-sarjana sukses sejak tahun 80an. Ibu, Bibi, Uda dan insyaAllah Saya, tahun depan.

Meski sudah tiga tahun berlalu, namun hingga saat ini pun, saya masih ingat persis detik-detik jelang pengumuman UMB pada bulan juni 2009 lalu.




Juni 2009

Matahari mulai tenggelam. Langit pun mulai gelap. Kala itu menjelang maghrib, tanggal 29 Juni. Saya sedang menunggu pengumuman UMB yang dijadwalkan akan diumumkan melalui internet pada pukul 18.00 WIB. Harap, cemas, dan rasa takut menjadi satu. Detik-detik yang cukup menegangkan bagi saya. Jujur, saat itu saya hanya berharap masuk pada pilihan kedua. "Ilmu Komputer? ah, sepertinya terlalu tinggi", gumam saya dalam hati. Bahkan tahun lalu posisi passing grade-nya berada di nomor dua setelah pendidikan dokter UI. Yang ada dipikiran saya waktu itu, kira-kira teknik elektro atau mesin ya? Hanya dua itu. Sama sekali tidak terlintas prodi ilmu komputer. Namun Alhamdulillah, puji syukur, Allah mengizinkan saya lolos di pilihan pertama di Prodi Ilmu Komputer Universitas Indonesia. Senang, sangat. Bahkan saya seperti anak kecil yang lompat-lompat tatkala melihat pengumuman via browser handphone. Saya langsung dipeluk erat oleh nenek. Alhamdulillah, semua bangga, semua senang.

Juni-Juli 2008

Kita mundur satu tahun. Waktu itu pertengahan tahun 2008. Abang saya yang biasa saya panggil uda, mengikuti bimbingan belajar di tempat yang sama, Nurul Fikri Kota Padang. Di rumah itu pula, ia tinggal bersama kakek dan nenek, berusaha menggapai cita-citanya, menjadi seorang dokter. Ia merupakan tipe orang yang gigih dan bersemangat. Saya sangat mengagumi itu, terutama kedisiplinan dan semangatnya.

Waktu itu, seleksi SNMPTN berlangsung pada 2-3 juli 2008. Namun sayang, saat mengikuti seleksi tersebut, ia dalam keadaan kurang sehat. Saya yakin hal itu akan sangat mempengaruhi konsentrasi ujiannya. Namun alhamdulillah, pada 1 agustus 2008, pengumuman SNMPTN memberi kabar gembira, ia lulus di Pendidikan Dokter Unsyiah, Aceh. 

Sejak kepergiannya, rumah ini berasa agak sepi. Satu pemimpin telah pergi demi masa depannya. Tinggal ayah, ibu, saya dan kedua adik. Kini satu dari empat bersaudara telah berangkat. Namun jiwa kepemimpinannya tak pernah pudar. Bahkan di sana, di negeri rantau, di Fakultas Kedokteran Unsyiah, ia terpilih sebagai Gubernur Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FK Unsyiah. Setahun kemudian, ia "naik pangkat", berkarir di Pemerintahan Mahasiswa (Pema) Unsyiah – di beberapa perguruan tinggi lain disebut sebagai BEM – sebagai Menteri Sosial Pema Unsyiah. Tidak hanya ia, kami pun turut bangga atas prestasi kepemimpinannya.

Agustus 2009

Tak lama berselang sejak kepergiannya, satu tahun kemudian giliran saya, menuju depok, UI. Di tahun yang sama pula, kabar gembira pun datang. Ayah kami diterima beasiswa S3 di Curtin, Australia. Beliau berangkat ke Australia berbarengan dengan saya berangkat ke Depok.

Rumah ini semakin sepi. Hanya tinggal ibu dan dua anak kecil yang ketiganya sangat saya sayangi. Naufal, adik nomor tiga, kini harus belajar mandiri. Ia menjadi pemimpin di sini. Meski masih SD, kini ia harus pulang pergi sekolah sendirian menggunakan ojek dan angkot. 10 Km, bukan jarak yang dekat.

Februari 2011

Satu tahun berikutnya, giliran ia, Naufal, sang juara menggambar tingkat provinsi yang memenuhi panggilan ilmu, menjajal lika liku pendidikan di dunia baru, Australia. Disana, karya-karyanya lebih dihargai. Kretifitas dan kelihainnya dalam menggambar – yang merupakan kemampuan turunan dari Ayah kami – lebih dihargai ketimbang di sini, Indonesia. Berbagai sertifikat penghargaan dan lomba telah ia juarai.

Kini, dirumah ini, hanya tinggal Ibu dan adik saya yang terakhir, Fauzan. Ia pun harus belajar mandiri, lebih dari sebelumnya. Tidak ada lagi kakak – panggilan Fauzan untuk abangnya, Naufal – yang menemani hari-harinya, dan menemani ia bermain.

Empat bersaudara kini telah berpisah, menggapai cita-cita mereka.

Begitulah hebatnya keluarga ini. Dua orang pujangga ilmu, Ibu dan Ayah, dua orang pahlawan tanpa tanda jasa, pahlawan bagi kami berempat yang sejak kami kecil selalu mendidik dan menanamkan pada diri kami bahwa pendidikan itu penting, ilmu itu penting.

 “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” QS : Al-Mujaadilah ayat 11

Menuntut ilmu wajib bagi setiap Muslim.” (HR. Ahmad dengan sanad hasan)

Rindu rasanya keluarga ini bisa berkumpul lagi secara utuh, berbagi pengalaman, bersenda gurau, dan bermain lagi seperti saat kami berempat masih berkumpul. Sejak kepergian Ayah dan Naufal ke Australia, kami tidak pernah berkumpul secara "komplit". Jadwal liburan masing-masing sering berselisih. Kami pun tak ingin mengorbankan pendidikan hanya untuk dapat berkumpul bersama. Tidak. Tidak akan. Itu bukan pendidikan yang ditanamkan di keluarga ini.

Namun tetap saja saya rindu semua bisa berkumpul kembali. Semoga tahun depan bisa tercapai, aamiin. Di saat Ayah telah mendapat gelar doktornya dan disaat saya telah diwisuda, semoga kelak satu keluarga ini bisa berkumpul lagi secara utuh. Aamiin Ya Rabbal'alamin

Jumat, 02 November 2012

Patah


Teguh kokoh batang jati
Tinggi menjulang dahan nan tinggi
Cengkeram mendalam akar di bumi

Semakin tinggi
Semakin kokoh
Angin pun iri
Mencoba menguji

Angin datang tak kunjung henti
Terpaan datang silih berganti
Akar di hujamkan
Cengkeram diperdalam

Semakin tinggi
Semakin kokoh
Tak lelah akar mencengkeram
Tak bosan bumi menggenggam

Tiba-tiba
Ujian kembali datang
Lebih ganas lebih garang

Bersorak takut penghuni lembah
Kemarau datang!
Kemarau datang!
Kemarau datang!

Mulai tandus, kering, gersang
Haus, lelah, bersusah, berpayah
Namun hati tetap tabah

Lihat sekeliling
Rekanan tumbang
Kawan pun hilang
Hanya tinggal badan sebatang

Angin semakin garang
Di tanah yang gersang
Topan dan badai mulai datang

Ah, apakah ini akhirnya?
Apakah ini takdirnya?

Angin semakin garang
Gugur daun dari batang
Jatuh buah berserakan
Hati tersenyum
Riang meski batang mulai goyang
Riang meski diri terasa akan tumbang
Riang meski ajal sudah datang

Ah, inilah perjuangan
Sedikitpun tak ku menyesal
Sedikitpun tak ku menyesal
Terimakasih angin
Bibit-bibit ku sudah di tempat yang kuharapkan

Khusyuk

Diam
Diam
Diam
Diam

Sepi
Sepi
Sepi
Sepi

Sunyi
Sunyi
Sunyi
Sunyi

Hening
Hening
Hening
Hening

Dalam diam termenung
Pejam sepi sekeliling
Sunyi dan hening

Suara tak terdengar
Riuh terpendam
Hati mendalam

Kamis, 01 November 2012

Waktu dan Perjuangan


Masa lalu itu tak bisa diubah
Sedangkan masa depan penuh dengan ketidakpastian
Satu-satunya yang pasti dan masih dapat diubah ialah saat ini.



Banyak yang berkata, “masa depan anda, ada di tangan anda”. Namun saya lebih suka mengatakan, “masa sekarang anda, ada di tangan anda” dan “masa lalu anda, ada di masa sekarang

Saya lebih suka menilai sesuatu dari apa yang dilakukan sekarang. Bukan menilai dari rencana-rencana "indah" yang penuh ketidakpastian karena yang terpenting dari masa depan ialah bukan masa depan itu sendiri, bukan rencana ataupun cita-cita, melainkan apa yang kita lakukan saat ini untuk menuju pada rencana atau cita-cita tersebut.

Masa sekarang kelak akan menjadi masa lalu. Waktu ketika anda membaca paragraf diatas ialah masa lalu dan kita tak akan mungkin bisa kembali ke masa lalu. Masa lalu itu akan selalu pergi menjauh secara perlahan, detik demi detik, menit demi menit. Hingga tanpa kita sadari, tiba-tiba tahun demi tahun telah berlalu menjauhi kita, dan tak mungkin kembali. Di dalam Al-Quran, Allah Subhanallahu wa ta'ala telah berfirman seraya bersumpah atas waktu :

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan melakukan amal sholih dan saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam (menetapi) kesabaran.”
[ al-Ashr [103]: 1-3 ]

Orang yang beruntung bukanlah yang berpangkat tinggi, bukan pula yang kaya atau yang paling pintar melainkan orang-orang beruntung ialah orang-orang yang senantiasa beriman dan melakukan amal sholeh. 

Masa depan dan perubahan

Sekali lagi, masa depan itu penuh dengan rencana. Masa depan itu penuh dengan bayang-banyang dan ketidak-pastian. Satu hal yang pasti ialah masa sekarang, saat ini. Di kepastian inilah kita berjuang, bukan dalam angan-angan di masa depan namun di saat ini, saat ini juga.

"Mari menyejarah", dua kata yang sering dilontarkan oleh abang saya, dr. Poby Karmendra. Setiap rangkaian detik yang kita lalui tak ubahnya dengan merangkai sejarah untuk kita kenang. Begitupula hari ini, besok dan seterusnya. Kita selalu merangkai sejarah yang akan selalu abadi. Agar sejarah itu indah, maka rangkailah detik demi detik dengan hal-hal yang bermanfaat. Sehingga ketika kita mengenang masa lalu, kita akan tersenyum bukan sebaliknya, menangis dan menyesal.

Jadi, inti dari perubahan bukanlah merubah masa depan melainkan merubah masa sekarang, masa saat ini. Sebagai seorang pemuda, saya memiliki cita-cita besar terhadap bangsa ini. Salah satu cita-cita saya ialah, saya ingin melihat negara ini menjadi negara maju sebelum saya tutup usia nanti. Tiga poin utama yang menjadi parameter negara maju bagi saya ialah pendidikan, ekonomi dan moral.

Mungkin cita-cita ini terdengar aneh bagi sebagian orang. Namun saya yakin tidak ada seorangpun yang mampu menjamin hal tersebut tidak mungkin untuk dicapai. Oleh karena itu, saya mengajak teman-teman semua untuk ikut berjuang menggapai cita-cita ini. Saya yakin tidak ada satu pun dari kita yang tidak ingin memajukan bangsa ini. Semua pasti mau. Sekarang tinggal bagaimana usahanya dan sebesar apa usahanya. Semua itu, kita sendirilah yang bisa menentukannya :)


Kita berjuang saat ini, untuk merajut masa depan dan mengukir masa lalu. Ingatlah, semakin besar perjuangan kita maka akan semakin kecil pula penyesalan yang kita peroleh nantinya.

Sabtu, 20 Oktober 2012

Agar aku bisa lebih baik




Aku adalah seorang kritikus
Kerjaku adalah mengkritik dan mengkritik
Apapun bisa aku kritik, pasti
Karena aku yakin, di dunia ini tidak ada yang sempurna
Pasti akan selalu ada celah yang bisa aku kritisi




Aku adalah seorang motivator
Kerjaku adalah memberi semangat kepada mereka
Siapapun bisa aku motivasi
Karena aku yakin, hidup ini ialah belajar
Dan gagal ialah salah satu proses dari belajar


- I need both of you -

Dalam diri kita, terdapat dua sisi berbeda yaitu satu sisi yang selalu memberi semangat , keyakinan dan motivasi dan sisi lain yang sebaliknya, yang selalu berusaha mengkritik, menjatuhkan dan men-demotivasi. Porsi dari keduanya tentunya berbeda-beda pada setiap orang. Inilah yang membedakan mana orang yang selalu bersemangat dan mana yang kurang bersemangat, mana yang cenderung optimis dan yang pesimis. Selanjutnya kita sebut kedua sisi ini sebagai sisi kritikus dan sisi motivator.

Menurut saya, dua-duanya tidak ada yang lebih baik pun tidak ada yang lebih buruk. Orang-orang yang cenderung bersemangat berarti memiliki sisi motivator yang tinggi dalam dirinya. Namun tetap ia harus memiliki sisi kritikus. Sisi kritikus inilah yang membuat seseorang selalu berkembang dengan menyadari celah dirinya. Tanpa sisi kritikus, seseorang akan cenderung merasa sudah baik atas semua hasil yang ia capai tanpa menyadari apa kekurangan dari setiap pencapaian tersebut.

Namun, jika sisi kritikus mendominasi, kita bisa bayangkan apa yang akan terjadi, yaitu orang akan cenderung menjadi pesimis dan selalu menyalahkan dirinya atas semua celah dari hasil perjuangannya. Mereka akan cenderung berkata "Kok gue banyak kurangnya ya... Kayaknya semua yang gue lakuin ga ada gunanya" dst. 

Di lain pihak, jika sisi motivator mendominasi, sisi yang bersemangat dan menggebu-gebu ini akan susah untuk di kontrol. Seseorang akan cenderung merasa puas dan sudah melakukan yang terbaik padahal sebetulnya banyak kekurangan dari apa yang telah ia lakukan bahkan mungkin ada usaha-usaha yang belum ia lakukan untuk memaksimalkan capaian tersebut. Orang yang memiliki sisi motivator dominan biasanya akan cenderung beranggapan "Gue udah melakukan yang terbaik kok. Gue udah berusaha keras kok" dst.

Disnilah poin utamanya, yaitu bagaimana kita sebagai insan dapat menyeimbangkan kedua sisi ini. Sisi ini akan bekerja sama dengan sisi motivasi yang selalu optimis yang memberikan motivasi untuk bangkit dari kegagalan demi kegagalan yang kita hadapi. Salah seorang direktur dari perusahaan tempat saya bekerja pernah berkata sembari bercanda :

"Kalau kita gagal jangan patah semangat, kita harus bisa bangkit! karena ada banyak kegagalan-kegagalan lain yang belum kita coba"

Maknanya begitu dalam bagi saya. Gagal itu biasa. Orang yang bodoh bukanlah orang yang gagal, tak peduli seberapa banyak kegagalan yang ia "raih", melainkan orang yang bodoh ialah orang yang jatuh pada kegagalan yang sama berkali-kali tanpa belajar dari kegagalan tersebut. 

Satu poin penting lain yang perlu saya tekankan ialah, jangan membuang-buang waktu untuk membuktikan sebuah kegagalan jika orang lain sudah membuktikannya, lebih baik cari kegagalan lain untuk dicoba. Hehe. Intinya, belajar dari pengalaman itu penting, namun tidak hanya belajar dari pengalaman sendiri, melainkan juga belajar dari pengalaman orang lain, ini juga tak kalah pentingnya.

Oleh karena itu, mulai hari ini, mari kita coba kegagalan demi kegagalan yang sudah menunggu. Gunakan sisi kritikus untuk mengevaluasi diri dan sisi motivator untuk terus bangkit mencoba kegagalan-kegagalan lainnya.  

Sumber : opini pribadi :)

Beberapa catatan :
  1. Jangan lupa untuk sejenak berhenti dan berfikir agar kita mampu menyeimbangkan kedua sisi ini, karena kita jualah yang mengetahui porsi yang pas untuk diri kita. 
  2. Jika tak mampu memotivasi diri sendiri, mintalah teman terdekat anda untuk memberikan motivasi sembari belajarlah untuk memotivasi diri sendiri.
  3. Jika tak mampu mengkritik diri sendiri, mintalah teman terdekat anda untuk memberikan kritik sembari belajarlah untuk mengkritik diri sendiri.


Rabu, 17 Oktober 2012

Pemuda dan Perubahan


"Hanya ada dua jenis anak muda di dunia ini, mereka yang MENUNTUT perubahan dan mereka yang MENCIPTAKAN perubahan" 
- Pandji Pragiwaksono -

Dalam hati : "Masih kurang satu mas Pandji, mereka yang tidak PEDULI akan perubahan. Mau berubah kek, mau enggak, endjoy adjaaa..."

Sabtu, 13 Oktober 2012

Faris Odeh 1985-2000



Faris Odeh, December 1985 - 9 November 2000
Foto ini diambil pada 29 Oktober 2000. Sepuluh hari kemudian, pada 9 November 2000, ketika Faris kembali melempar batu pada tank-tank penjajah, ia diembak pada lehernya oleh tentara Israel.


Ya Allah,
Terimkasih...
Sampai detik ini Engkau masih memberikan hati yang lembut kepada kami,
Sehingga kami bisa merasakan bagaimana pedihnya penderitaan saudara-saudara kami di sana.
Sehingga hati ini masih bisa terketuk tatkala melihat darah-darah saudara kami yang tertumpah di sana.
Sehingga air mata ini masih bisa berlinang melihat semangat yang begitu besar dari mereka.
Melihat anak-anak kecil yang tak gentar berhadapan dengan tank-tank zionis yahudi.

Sungguh, aku belum melihat semangat dan keberanian seperti itu dalam sejarah bangsaku, terlebih lagi pada diriku.

Namun Ya, Allah,
Ampunilah kami,
Karena masih sedikit yang telah kami lakukan untuk membela saudara-saudara kami di sana.
Selain sekedar rasa prihatin dan iba.
Selain sekedar tetesan air mata yang tentunya tak akan mengurangi penderitaan mereka.
Ampuni kami ya Allah.

Ya Allah,
Bebaskanlah mereka,
Kuatkanlah mereka,
Lindungilah mereka,

Ya Allah,
Sungguh, musuh-Mu juga adalah musuh kami,
Semoga hari ini atau esok,
Kami bisa melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar prihatin dan do'a,
Semoga dengan ilmu yang kami miliki, kelak kami bisa membantu mereka,
Dengan tangan-tangan kami,
Dengan pengetahuan yang kami punya,
Tunjukkanlah jalannya Ya Allah,
Mudahkanlah jalannya Ya Allah,
Aamiin, Ya Allah.

Ya Allah,
Berikanlah kami hati yang lembut selembut hati Nabi Muhammad SAW.
Berilah kami keberanian sebagaimana besarnyanya keberanian yang Engkau berikan pada Khalifah Umar bin Khattab r.a. agar kami berani untuk mengatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah.
Aamiin, Ya Rabbal'alamin.

==========================================================

Begitulah teman-teman, saya selalu sedih tiap kali menonton video perjuangan saudara-saudara kita di Jalur Gazza sana. Melihat anak-anak kecil yang begitu berani menghadapi tank-tank bersenjata lengkap hanya dengan beberapa buah batu kecil, Subhanallah.

Dalam sebuah hadits musthofa, Rasulullah SAW bersabda, "Walaupun Ka'bah dirubuhkan batu demi batu, adalah lebih ringan bagi Allah dari tertumpahnya darah seorang muslim." Sebuah hadits yang begitu mengiris tatkala saya hanya berdiam diri menonton video-video penderitaan mereka yang ada di Palestina.

Dan setiap kali melihat foto Faris Odeh di atas, saya selalu bertanya kepada diri sendiri, "lantas, apa lagi yang aku takutkan di bumi ini kecuali Allah SWT. Masih pantaskah takut pada dosen? takut pada Ujian? takut pada masalah? atau takut pada masa depan?" Tidak lagi. Cobalah, teman-teman print dan pajang foto itu di kamar masing-masing, semoga bisa menambah keberanian dalam menghadapi setiap rintangan hidup ini.

Ohya, terkait perjuangan melawan musuh-musuh Allah, dalam surat Al-Anfal 60-66, Allah telah berfirman dengan sangat jelas. Sedikit saya tunjukkan surat Al-Anfal ayat 60, yang artinya :

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (QS al-Anfal [8]: 60).

Termasuk didalamnya ialah musuh-musuh Islam, terlebih lagi musuh abadi kita yaitu syaitan yang di dalam Al-Qur'an Allah telah menegaskan bahwa sesungguhnya syaitan itu ialah musuh yang nyata bagi kita :


Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah ayat 208)

Next, kita lompat sedikit, apa yang bisa kita lakukan?
Banyak saudara-saudaraku... Sungguh banyak.

Teman-teman bisa googling di internet tentang apa yang bisa kita lakukan untuk membela saudara-saudara kita yang berada Palestina dan Tepi Barat. Tentu akan lebih mengena jika teman-teman berusaha mencari sendiri ketimbang saya "suapin", hehe. Lagi pula, ada banyak pemikiran dan pandangan yang beragam tentang tindakan-tindakan teruntuk bagi saudara-saudara kita disana, mulai dari jangka pendek, menengah hingga jangka panjang. Salah satunya seperti apa yang sedang saya lakukan sekarang, mengajak teman-teman semua untuk ikut peduli dengan kondisi mereka, tidak hanya di Palestina, namun juga India, Syiria, Myanmar, dan banyak lagi saudara-saudara seiman kita yang tertindas di luar sana (bisa di googling aja untuk info lebih lanjut).

Saya pun punya ide unik menanggapi hal ini, namun sekedar rencana awal yang masih begitu unik, yaitu saya bercita-cita membangun sendi-sendi perusahaan yang mampu mengalahkan perusahaan-perusahaan milik yahudi. Dengan demikian, tentu mereka akan kalang kabut soal ekonomi. Intinya, No dana, No perang, No bantai saudara Muslim saya di Palestina. Agak mengkhayal, tapi ingatlah, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah bersama kita. Atau teman-teman ingin membantu saya? Atau mungkin teman-teman punya ide lain yang lebih menarik? Just share it! :)

Teman-teman juga dapat berkunjung ke blog ini, cukup inspiratif (recomended juga untuk dibaca, serius!) :
http://adamp1.wordpress.com/2009/01/18/we-will-not-go-down-song-for-gaza/ 


Berikut salah satu paragraf dari artikel tersebut yang cukup inspiratif bagi saya :

Yang gw tahu dan gw rasa…
Dia sadar bukan orang yang paling suci dari hal yang haram apalagi syubhat.
Dia sadar dia tidak sealim seperti ikhwan-ikhwan yang biasa ‘hang out’ di Masjid. Meskipun dia selalu berusaha untuk sholat jamaah awal waktu di Masjid. Mungkin dia bukan bagian dari mereka. Di saat dia asyik meluangkan waktunya ngerokok, mereka di sana mengisi waktunya mencium mushaf saku kecilnya setiap memulai dan mengakhiri kajian. Dia Cuma berusaha menunjukan ke dirinya sendiri, betapa dia sangat peduli dengan penderitaan dan perjuangan saudara-saudaranya di Gaza dan Tepi Barat.



Jumat, 12 Oktober 2012

Deadline!!!

Ya, kita tak asing dengan kata-kata deadline.
Deadline merupakan batas waktu yang menjadi patokan kapan suatu pekerjaan harus diselesaikan.

sumber : scele.cs.ui.ac.id, setiap tanggal merah bukan hari libur, melainkan deadline tugas

Sedikit curhat saja, akhir-akhir ini deadline-deadline tugas di kampus saya begitu membabi-buta. Bagai senapan mesin otomatis yang menghabisi targetnya tanpa ampun. Hampir setiap minggunya ada deadline dan bukan cuma satu. Belum lagi amanah yang memiliki deadline tersendiri di setiap minggunya. Berat? Tentu!

Itulah hidup, hidup dipenuhi dengan deadline.

Disalah satu twitnya, teman saya @yahyaman09 berceloteh, "Yeah! everyday is a deadline day!".  Tepat sekali!. Setiap hari dalam hidup kita merupakan deadline, garis mati. Mungkin lebih tepatnya setiap detik.

Sungguh, (sebagai mahasiswa normal) ketika ada tugas, kita takut jika kita tidak dapat menyelesaikan tugas tepat waktu. Terlebih lagi bagi karyawan, karena ancamannya ialah kehilangan pekerjaan. Cemas? Wajar, berarti anda normal!

Kemudian bagaimana dengan deadline kehidupan ini?
Percayalah, setiap detik yang kita lalui ialah deadline.
Setiap detik adaah deadline bagi kita untuk berbuat kebaikan.
Setiap detik adalah deadline bagi kita untuk beramal sebanyak-banyaknya.
Setiap detik pula adalah deadline bagi kita untuk mempersiapkan diri menghadapi akhir hidup ini.
Mengapa? Jawabannya cuma satu, kita tak tahu kapan kita akan dipanggil oleh-Nya.
Detik demi detik, bagi mereka yang sadar, tentu akan selalu dihantui dengan ketakutan.
Sudah siapkah?
Sudah cukupkah amalan kita?
Sudah pantaskah untuk menerima syurga-Nya?
Sudah memohon ampunkah?
Sudah bertaubatkah?

Jawabannya akan selalu belum. Siapapun kita, sombong sekali jika kita berkata kita sudah siap.

Bayangkanlah, nabi kita, yang selalu kita cintai dan sayangi, Muhammad SAW, satu-satunya manusia yang terlepas dari dosa, pun setiap harinya beliau beristighfar lebih dari 70 kali. Seorang manusia yang telah dijanjikan syurga, namun dia tetap takut jika tak mendapat Ridho dari Allah SWT.

Lalu, siapa kita? Sucikah kita?

Kita bukan siapa-siapa. Kita bukan Nabi apalagi Rasul. Kita tak pernah dijanjikan pasti masuk syurga. Kita juga bukan orang suci yang bebas dari dosa seperti Rasulullah. Malah sebaliknya, setiap harinya kita tak luput dari dosa. Jangankan istighfar lebih dari 70 kali, lebih parah lagi bahkan ada hari-hari yang kita lalui tanpa beristighfar pada-Nya, tanpa meminta ampunan kepada-Nya, tanpa meminta Ridho dari-Nya.

Lalu, SIAPA KITA?

Sejenak, saya teringat akan sebuah lagu yang dilantunkan oleh grup nasyid Raihan. Liriknya sangat manis. Begitu menyentuh. Lagu ini merupakan do'a Abu Nawas ketika masa hidupnya :

I'tiraf


Wahai Tuhan, ku tak layak ke surgaMu
Namun tak pula aku sanggup ke nerakaMu
Ampunkan dosaku, terimalah taubatku
Sesungguhnya Engkaulah pengampun dosa-dosa besar

Ilahi lastu lil firdausi ahlaa
Wa laa aqwa 'alaa naaril jahiimi
Fahabli taubataw waghfir dzunuubi
Fa innaka ghofirudz dzam bil 'adhiimi

Dosa-dosaku bagaikan pepasir di pantai
Dengan rahmatMu ampunkan daku oh Tuhanku

Wahai Tuhan selamatkan kami ini
Dari segala kejahatan dan kecelakaan
Kami takut, kami harap kepadaMu
Suburkanlah cinta kami kepadaMu

Kamilah hamba yang mengharap belas dariMu

Begitulah, kita sadar. Kita tak layak mendapat syurga. Rasulullah saja yang telah dijanjikan syurga masih beristighfar lebih dari 70 kali setiap harinya ditambah begitu banyak amalan sunnah yang beliau kerjakan. Lalu Kita? Kita belum pantas. Yang kita harapkan ialah Ridho Allah SWT. Berharap agar Ia kelak akan menerima setiap amalan-amalan kecil kita yang tak seberapa. Berharap agar Ia mau mengampuni seluruh dosa-dosa yang bahkan lebih banyak dari jumlah amaln kita. Melalui setiap amalan ini, kita berusaha memperoleh Ridho Nya. seraya berharap ampunan dari Nya. Semoga kelak kita bisa dipertemukan di jannah Nya. Amiin Ya Rabbal'alamin.


Sebagai penutup, teman-teman dapat menyimak cerita menarik berikut :

Suatu hari seorang anak datang kepada ayahnya dan bertanya, 
"Apakah kita bisa hidup tidak berdosa selama hidup kita ?". 
Ayahnya memandang kepada anak kecil itu dan berkata, "Tidak, nak". 

Putri kecil ini kemudian memandang ayahnya dan berkata lagi, 
"Apakah kita bisa hidup tanpa berdosa dalam setahun ?" 
Ayahnya kembali menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum kepada putrinya. 

"Oh ayah, bagaimana kalau 1 bulan, apakah kita bisa hidup tanpa melakukan kesalahan ?" 
Ayahnya tertawa, "Mungkin tidak bisa juga, nak". 

"OK ayah, ini yang terakhir kali, apakah kita bisa hidup tidak berdosa dalam 1 jam saja?". 
Akhirnya ayahnya mengangguk,"Kemungkinan besar, bisa nak dan kasih 
Tuhan lah yang akan memampukan kita untuk hidup benar". 

Anak ini tersenyum lega. 

"Jika demikian, aku akan hidup benar dari jam ke jam, ayah. 
Lebih mudah menjalaninya, dan aku akan menjaganya dari jam ke jam, 
sehingga aku dapat hidup dengan benar......" 

sumber : http://your-motivation-here.blogspot.com/2012/07/hidup-benar-selama-1-jam.html


Selasa, 25 September 2012

Mengalah bukan berarti kalah

"Banyak yang berjuang demi sebuah kemenangan, namun hanya sedikit yang mengalah untuk menang, karena agar bisa mengalah, kita harus bisa menang melawan ego dengan kesabaran"
- Habiburrahman, 24 Sept 2012


Mungkin bagi sebagian orang, mereka yang mengalah dalam sebuah perkara terlihat lemah, tapi sebenarnya, justru mereka lebih kuat. Kuat melawan ego mereka sendiri. Kuat untuk menundukkan emosional yang terkadang begitu membara untuk mengalahkan lawannya. Ya, saya akui mereka lebih kuat.

Mungkin bagi sebagian orang menilai mengalah itu perkara mudah. Tunggu dulu Bung! Seandainya mengalah adalah perkara mudah, tak akan ada perang saudara, pun tak kan ada orang-orang yang berebut kekuasaan. Ya, ini fenomena yang biasa terjadi.

Tak heran terkadang mereka yang mengalah justru sebelumnya berada pada posisi dimana mereka memiliki potensi lebih besar untuk menang, namun mereka memilih untuk mengalah. Inilah bagian tersulitnya. Mengalah demi kemenangan besar yang terkadang tak tampak bahkan sering kali tak terbayang oleh mereka yang mengedepankan ego masing-masing.

Pada akhirnya,
Mengalah adalah sebuah kemenangan melawan ego diri.
Mengalah bukan berarti kalah.
Namun mengalah adalah sebuah strategi.
Sebuah strategi untuk meraih kemenangan.



Senin, 03 September 2012

Belajar Bahasa Inggris

Dua hari yang lalu saya sempat menonton sebuah acara kompetisi stand up comedy di salah stasiun TV Nasional. Mungkin sebagian kita sudah mengetahui apa itu stand up comedy, jadi nggak perlu saya jelaskan lagi ya. Stand up comedy memang bukan sesuatu yang baru. Tapi waktu itu adalah kali pertama saya nonton stand up comedy (you gotta know this).

Di acara tersebut, banyak sekali penampilan finalis yang membuat saya terpingkal-pingkal, lucu. Berbeda dengan komedi-komedi lawakan seperti OVJ dan kawan-kawan, stand up comedy lebih berbobot dan lebih berwawasan menurut saya. Satu demi satu lawakan sang komedian saya nikmati, hingga tibalah penampilan dari host acara tersebut yang tentunya dia sudah lebih berpengalaman dalam hal ini, Panji Pragiwaksono.




Dalam setiap lawakan stand up comedy, biasanya terdapat satu tema dan suatu pesan yang ingin disampaikan pelawak kepada penonton. Salah satu pesan yang disampaikan oleh mas Panji ialah mengenai Cinta Indonesia. Disini, dari lawakannya dia berusaha menyampaikan -maaf, saya nggak bisa melawak, jadi saya ceritain aja intinya- bahwa kita harus bangga dengan Bahasa Indonesia. Kenapa harus pakai bahasa Inggris segala atau sok sok pake Bahasa Inggris. Bangga dong pake Bahasa Indonesia. Coba kita lihat di cafe-cafe atau di restoran, kebanyakan kata-kata mereka tidak luput dari satu atau beberapa frase bahasa inggris. Atau ada juga anak-anak muda yang berlagak pake Bahasa Inggris, tapi sayangnya pronunciation nya nggak pas. "Ngapain sih, sok sok pake Bahasa Inggris, bisa juga kagak, bangga dong pake Bahasa Indonesia"

Tentu, kita semua, mulai dari anak SD sampe yang udah bau tanah tentunya sepakat-kat-kattt dengan apa yang disampaikan oleh mas Panji bahwa kita sudah sepatutnya bangga dengan Bahasa Indonesia. Namun, saya mencoba memandang dari sisi yang berbeda.

Bahasa Inggris ialah bahasa Internasional, Bung. Ini suatu kenyataan yang nggak bisa dipungkiri. "Menurut Gue, kalo negara Lo pengen jadi negara maju, salah satu jalannya Lo harus kuasai Bahasa Internasional, kecuali kalo Lo pengen hidup dalam kandang aja dan terus terusan jadi Negara Berkembang"

Ya, dulu saya sepakat dengan mas Panji, "ngapain sih sok sok pake Bahasa Inggris segala, Bahasa Indonesia aja kenapa ???". Tapi sekarang saya berfikir sebaliknya, justru bagus dong kalo kita memasyarakatkan penggunaan bahasa inggris di kehidupan sehari-hari. Nggak apa-apa deh awal-awalnya pronounciation nya berantakan. Coba deh liat gimana pronounciation bahasa inggrisnya orang india dan arab, atau orang jepang lebih-lebih orang itali. -patut kita bersyukur, logat bahasa Indonesia nggak begitu mempersulit kita untuk melakukan pronounciation bahasa inggris-

Berawal dari pronounciation yang berantakan, yang pasti nggak bakal berantakan forever kan ya. Berawal juga dari masyarakat kota, hingga nanti ke desa-desa. Kita masyarakatkan penggunaan Bahasa Inggris namun tetap bahasa yang kita cintai ya Bahasa Indonesia sebagai salah satu alat pemersatu Bangsa.

Jadi sekali lagi, kalo ada temen-temen kita yang "sok sok" pake Bahasa Inggris, jangan kita cela, alangkah baiknya kita support, dan alangkah lebih baik lagi kalo kita mampu, kita bantu perbaiki pronounciation mereka yang mungkin kurang pas (bahasa saya : berantakan).



Sabtu, 01 September 2012

Curcol..???

Mungkin kita pernah mengeluh pada seseorang atau mungkin sekedar mencurhatkan hal-hal buruk yang sedang atau pernah terjadi pada diri kita, hingga membuat seolah-olah kita lah orang yang paling sengsara di dunia, hingga seakan-akan orang yang kita ajak bicara adalah orang yang paling beruntung di dunia karena tidak mengalami hal-hal buruk seperti yang kita alami...

Satu pertanyaan dari saya, apakah pernah terfikirkan oleh kita, saat kita curhat, saat kita mengeluh, saat kita berada di kondisi seakan-akan kita adalah yang paling sengsara, yang paling menderita, pernahkah terfikirkan bahwa orang yang kita ajak bicara, tempat kita mengeluh tersebut juga pernah mengalami hal yang tak jauh berbeda, atau mungkin serupa atau bahkan lebih buruk lagi dibanding yang kita alami. Tapi ia berusaha untuk tegar dan tidak mengeluh pada siapapun, melainkan Allah SWT. Dan bahkan tegarnya ia berusaha untuk membuat kita bersabar dan tawakal bukan sebaliknya berkata : "eh coy, yang gue alami bahkan jauh lebih parah dari lu, jangan sok-sok jadi orang paling menderita gitu dong".

... dan saya pernah beberapa kali berada di posisi si pendengar. Mungkin anda juga pernah :)


Kasih judul Nggak Ya??... :D

...anehnya, tidak sedikit orang yang berusaha mencari pembenaran ketimbang mencari kebenaran.

Mungkin kita sendiri pernah melakukan ini tanpa disadari. Semisal ketika kita ditegur atas suatu kesalahan, kita selalu mencoba mencari-cari alasan ini itu untuk berusaha membenarkan apa yang telah kita lakukan. 

Mulai dari hal sepele bahkan hingga hal-hal ekstrim seperti fatwa atau semacamnya. 
Mulai dari pembenaran yang bersifat dadakan hingga pembenaran yang direncanakan.
Mulai dari pembenaran atas hal-hal yang belum jelas ketidakbenarannya, hingga pembenaran atas sesuatu yang nyata-nyata salah.

Let's evaluasi dan introspeksi semua yang telah kita lakukan. Mari kita filter, adakah pembenaran yang semestinya tidak kita lakukan atau katakan?

Minggu, 10 Juni 2012

Aku


Aku…
Aku adalah aku
Aku tak bisa menjadi dirimu
Aku juga tak bisa menjadi dirinya

Darahku adalah darahku
Darahmu adalah darahmu
Dan darahnya adalah darahnya

Ketiganya mengalir di tubuh yang berbeda
Ketiganya dipengaruhi gen yang berbeda
Dan ketiganya memiliki karakter yang berbeda

Aku adalah diriku
Kau adalah dirimu
Dan dia adalah dirinya

Kita tak sama
Kita berbeda

Kau tak bisa memaksaku untuk menjadi dirimu
Kau juga tak bisa memaksaku untuk menjadi dirinya

Namun…
Aku bisa mencontoh kebaikanmu
Aku bisa meniru kebaikannya
Dan aku bisa membiasakannya

Ya…
Aku bisa membiasakannya
Aku pasti bisa membiasakannya
Aku yakin aku bisa membiasakannya

Meskipun aku juga yakin
Pada akhirnya,
Aku adalah aku
Aku tetaplah aku
Karena aku adalah diriku

- Habiburrahman, bait-bait menjelang senja -

Sobat, masing-masing kita punya karakter. Hiduplah dengan karakter itu. Tumbuhlah dengan karakter itu karena karakter itu adalah dirimu yang membedakan kau dengan yang lain. Tapi sobat, kebaikan tak ada hubungannya dengan karakter. Kita tak tahu mana yang lebih baik blak-blakan atau sembunyi-sembunyi. Kita juga tak tahu mana yang lebih pendiam atau periang. Terlebih kita juga tak tahu mana yang lebih baik, Sanguin, Korelis, Melankolis atau Plegmatis. Jika dikaji lebih dalam, masing-masing memiliki sisi positif dan negatif. Itulah karakter. Tak ada yang lebih baik dari yang lain, pun tak ada yang lebih buruk dari yang lain.

Yang pasti kebaikan adalah kebaikan. Bukan soal karakter. Tirulah kebaikan orang lain dan jangan kau tutup mata terhadapnya. Begitulah caramu memperkuat karaktermu.

Maka, jadilah pribadi yang BERKARAKTER dan tak perlu kau contoh yang tidak perlu dicontoh, apalagi mencontoh yang tak pantas/ tak patut dicontoh. Biarlah Al-Qur'an dan Al-Hadits yang membimbingmu dan biarlah Nabi Muhammad S.A.W. yang menjadi idolamu, bukan mereka para artist dan trendsetter zaman yang tak lebih dari sekedar boneka hiburan. Jika kau paham kata-kataku, kau akan hidup sobat, kau akan merdeka. Gengsi dunia tak akan lagi membelenggumu dan kau akan menjadi dirimu sesaui karaktermu. Percayalah!

Jumat, 08 Juni 2012

Hujan

sore ini hujan deras menyapa bumi
mengiringi senja yang mulai pergi
rintik demi rintiknya tak kunjung henti
dingin dan syahdu turut menyelimuti

petir dan gemuruh silih berganti
cahaya kilat pun selalu mendahului

kini senja telah pergi
namun hujan tetap tak beranjak pergi
kulihat mentari sudah tak ada lagi
dan malam pun semakin sunyi

hujan...
berpuaslah kau bahasi bumi ini
berpuaslah kau jatuhi tetes demi tetesmu
hingga nanti kau berhenti
izinkan aku untuk melangkah pergi
kembali ke gubuk ku yang sepi
tapi kuminta kau untuk berjanji
Jangan Kau Sirami Aku Diperjalanan Nanti

-dilema hujan yang tak kunjung henti-

Hujan, sejak saya masih balita saya sudah mulai mengenal hujan. Hujan itu asik. Nikmat. Rahmat. Meski dulu waktu usia empat tahun, saya pernah sedikit takut dengan hujan. Tatkala waktu itu hujan deras dan petir dan gemuruh tak kunjung berhenti. Akhirnya saya mencoba tidur dan menutup telinga berharap hujan segera berhenti.

Bicara tentang hujan, saya tak pernah ketinggalan lagu waktu zaman SD dulu, lagunya Neno Warisman-Aulade Gemintang, "Allah Turunkan Hujan", lebih kurang begini liriknya :

Allah turunkan hujan
Dari gumpalan awan
Dari langit yang tinggi
Membasahi seluruh bumi


Bumi jadi subur
Tanah jadi gembur
Allah tumbuhkan sayur mayur


Bumi jadi subur
Tanah jadi gembur
Pantaslah kita bersyukur


Allah makes the rain fall
From clauds up in the sky
The rain falls to the ground
And wets the earth thats dry


The rain makes the earth rich
The plants grow all around
Our garden are so full of life


The rain makes the earth rich
The plants grow all around
We thank God for beauty thats abound


Hal lain yang mengingatkan saya akan indahnya hujan di masa kecil tak lain dan tak bukan ialah mandi hujan, haha. Semua anak pasti suka ini dan semua orang tua juga pasti akan melarang anaknya untuk melakukan ini. Mungkin jikalau saya punya anak nanti, saya akan izinkan beberapa kali mereka mandi hujan, tapi tentu saja hanya sekali-sekali, sekedar menambah pengalaman mereka.

Hujan memang indah. Membuat hati menjadi damai dan tentram. Menikmati hujan tentu akan menjadi keindahan dan kebahagiaan tersendiri. Mungkin anda bisa mencobanya. Cobalah sesekali, ketika hujan tiba, berdirilah dibawah hujan. Tataplah langit yang gelap itu dan nikmati tetes demi tetesnya membasahi tubuh anda hingga masuk kedalam jiwa. hmm, tapi kalau sakit tanggung sendiri ya, ahaha. Setelah puas atau bosan mandi hujan, segeralah ke kamar mandi dan mandi dengan air hangat. Setelah itu berikah minyak kayu putih kesekujur tubuh anda dan segeralah ke tempat tidur, hmmm, anda akan mendapati tidur yang menyenangkan ditemani rerintik hujan dan hangatnya selimut anda.

Tapi masih ada cara lain untuk menikmati hujan. Apalagi di sore hari yang damai, anda nikmati hujan di teras rumah dengan secangkir teh hangat, hmm, membayangkannya saja saya sudah ngiler, apalagi jika ditemani secercah pelangi.

Ya, ada banyak cara untuk menikmati hujan, menikmati berkah dan rahmat yang diturunkan Allah SWT. Atau mungkin anda mau mencoba cara yang baru saya lakukan? Duduk di depan laptop, memandang keluar jendela dan membuat sebuah puisi dan tulisan tentang hujan. Tinggal pilih cara yang mana, yang penting, jangan sia-siakan kesempatan ini, meskipun disaat menunggu hujan seperti yang saya lakukan, tetap hujan bisa menjadi sumber kedamaian :D

Ohya, berikut lagu yang selalu mengingatkan saya akan indahnya hujan. "It's Gonna Rain" by Bonnie Pink di Ending ke 4 nya Samurai X, salah satu film favorit jaman SD





Blog Tips : Floating Image

Yup, kali ini saya akan membahas sedikit tentang tips blogging ala blogspot, berhubung juga kemarin ada yang nanya soal ini, jadi sekalian aja di post buat berbagi ilmu, ^^

Sesuai judul, kali ini saya akan membahas mengenai floating image atau gambar yang mengambang di blog kita. Contohnya seperti gambar yang ada di bagian bawah blog ini. Atau juga gambar facebook dan twitter di sisi kanan yang konsepnya juga sama.

Langsung aja, caranya gampang kok, pertama yang pasti masuk ke blogger.com terlebih dahulu, kemudian pilih blog yang mau di edit, lalu pilih submenu layout di bagian kiri.

Nah, disini kita baru mulai mengedit....

1. Bagi yang belum punya gadget HTML, klik add gadget trus pilih HTML/Javascript lalu klik tanda tambah, secara otomatis gadget akan masuk ke blog kita

2. Di gadget yang baru tadi, klik edit, abis itu copy dan paste source code di bawah ini,  :


<style type="text/css">
.bawah{position:fixed;bottom:-5px; left:0px;}
</style>
<div class='bawah'>
<img src='http://www1.picturepush.com/photo/a/7220094/img/7220094.png'/>
</div>


3. Sok atuh, ini udah 70% jadi mah, selanjutnya, tinggal di atur sesuai keinginan. Pada contoh ini, saya menggunakan posisi : bottom:-5px; left:0px. Artinya, posisi gambar kita berada sekitar -5 piksel dari batas bawah layar dan 0 piksel dari batas kiri layar.

4. Selanjutnya, link gambar yang ingin ditampilkan juga bisa di ubah. Pada contoh ini link gambar saya adalah http://www1.picturepush.com/photo/a/7220094/img/7220094.png . Disini saya rekomendasikan picturepush untuk meng-upload gambar dengan alasan, kita bisa upload tanpa perlu register dan jangka waktu kadaluarsa gambarnya juga cukup lama. Berikut linknya http://picturepush.com/upa . Jika sudah di upload, copy direct link nya, kemudian paste pada source code di atas. Kalo udah selesai tinggal di save dan lihat hasilnya, gampang bukaaannn???.

Untuk pengembangan selanjutnya, kita bisa menambah beberapa varian lain seperti gambar yang menjadi sedikit transparan ketika kita melakukan hover (memposisikan cursor pada gambar) seperti fitur link facebook dan twitter yang ada pada sisi kanan blog ini. Mungkin akan saya bahas di lain waktu, semoga tips ini bermanfaat :D

Kamis, 07 Juni 2012

Tiada Kata Terlambat



"Terlambat"



Mari berfikir...
apa yang bisa kita lakukan saat ini
apa yang bisa kita perbaiki saat ini
apa yang bisa kita rencanakan saat ini

ya, saat ini, bukan besok, bukan lusa, apalagi tahun depan

menit demi menit kita lalui setiap saat
dari detik ke detik jantung kita masih berdetak
setiap waktu....
setiap detik itu pulalah yang harus kita pertanggungjawabkan nanti kepada-Nya

tak perlu banyak basa basi...
beberapa waktu lalu aku melihat orang-orang sukses seperti
Pak Emirsyah Satar, Direktur Utama Garuda Indonesia
Pak Dahlan Iskan, Menteri BUMN
lebih dekat lagi aku melihat beberapa sosok-sosok pemimpin organisasi mahasiswa di kampusku sperti ketua BEM ketua MWA dan lain lain.

Bagaimana mereka bisa berhasil?
Aku sudah baca beberapa biografi dari mereka, aku sudah mengikuti beberapa berita terkait tentang mereka,
namun aku masih bingung dan penasaran,
hingga kutemukan jawaban bahwa, kuncinya adalah Waktu dan Pemanfaatan Waktu itu sendiri

munculkan keinginan - pupuk dengan keyakinan - kemudian lakukan - terakhir, "evaluasi berkala"!













Penulis

Penulis...
tidak selamanya penulis selalu punya ide-ide cemerlang untuk ditulis
terkadang penulis pun kebingungan apa yang akan ditulis
namun semangat untuk menulis tetap tak bisa dibendung
disaat itulah, meski yang awalnya tanpa ide, terkadang tulisan-tulisan yang dimulai tanpa sebuah ide dasar pun bisa menjadi tulisan yang menyenangkan untuk dibaca
disaat ingin menulis, penulis hanya mengungkapkan apa yang ingin dia tulis
urusan bobot tulisan? belakangan
yang penting Tulis!
tak setiap saat pula mood untuk menulis itu datang
kadang ada saat-saat dilemma
disaat ide datang, waktu tak memberikan peluang
disaat waktu senggang, ide tak kunjung datang
tak semua penulis pula yang aku maksud disini
yah, ini hanya sebuah generalisasi dari penulis sepertiku
tulis dan tulis
pokoknya ditulis
yang penting hasilnya sebuah tulisan
titik

-pagi tanpa ide-
-waktu ada, ide tak kunjung menyapa, maka inilah hasilnya-



Senin, 28 Mei 2012

La Tahzan Bro!

jika kau ingin bersedih maka bersedihlah..
jika kau ingin menangis maka menangislah..

tapi... sedihmu jangan berlarut-larut..
tapi... jangan sampai sedih itu meruntuhkan dinding kekuatanmu..

sebaliknya... sedih itu kau jadikan sebagai bara api yg dapat membakar semangatmu
bahwa esok kau jangan sampai bersedih lagi,
bahwa esok kau yakin ada senyum yg menanti..

#tetap semangat, tentulah kau mampu melewati ujian ini..
By : Mimi (Unja, 2008)
#selfTalking

Sabtu, 12 Mei 2012

Just DO IT !

Apakah sejarah masih belum cukup untuk membuktikannya?
Atau kita yang terlalu naif menilai ketidaksempurnaan diri ini?

'Abdurrahman ibn 'Auf, seorang pemuda Makkah yang berhijrah ke Madinah. Ia kemudian diperkenalkan pada seorang lelaki Anshar kaya raya, Sa'd ibn Ar -Rabi'. Sungguh mulia kedua orang ini, yang satu menawarkan membagi dua semua miliknya, rumah, kebun bahkan istrinya. Namun, lelaki yang satu lagi menjawab, "Tidak saudaraku... Tunjukkan saja jalan ke pasar"

Ya, kala itu 'Abdurrahman ibn 'Auf, hanya bermodalkan tangan kosong, melangkah memulai perjuangannya di Madinah.

Sebulan kemudian dia menghadap Rasulullah dengan baju baru, dan wewangian yang semerbak harumnya. "Ya, Rasulullah, aku telah menikah" katanya dengan tersenyum. Seorang wanita Anshar kini telah mendampinginya, maharnya seberat biji kurma dan walimahannya dengan menyembelih domba. Tidak perlu berpanjang lebar, beliau adalah sahabat Rasulullah, seorang saudagar yang kaya raya, yang begitu terkenal kekayaannya dan kerendahan hatinya.

Begitulah sejarah telah menunjukkan.
Begitulah sejarah telah membuktikan.

Apa yang lagi kita tunggu untuk memulai sesuatu?
Modal? Fasilitas? Kemampuan?
Semua itu ada pada diri kita sendiri

"Bekerja saja, maka keajaiban akan menyapa dari arah tak terduga"

Mulailah!, karena semua yang kita butuhkan ada pada diri kita sendiri, dan yakinlah bahwa Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan amal dan usaha kita.

i love you mom

"Meskipun aku tahu, sebesar apapun usahaku, tidak akan mungkin dapat membalas semua kasih sayangmu yang begitu besar, namun izinkanlah tangan-tangan mungil ini menuntun keyboard laptopku untuk mengungkapkan perasaanku bahwa aku sayang padamu.

Maha besar Allah yang telah melimpahkan kasih sayang-Nya melalui tanganmu, Ibu"

Di salah satu pengadilan Qasim, Hizan al Fuhaidi berdiri kecewa dengan air mata bercucuran hingga membasahi janggutnya.  Ternyata ia baru saja dikalahkan adik kandungnya oleh sang hakim dalam hak pemeliharaan ibunya yang sudah tua renta. 

Seumur hidupnya sang ibu tinggal bersama Hizan al Fuhaidi  di pedesaan. Dan tatkala sang ibu menua dan keriput serta hanya memakai perhiasan cincin timah dijarinya, datanglah sang adik yang tinggal di perkotaan untuk mengajak sang ibu tinggal bersamanya dengan alasan fasilitas kesehatan di perkotaan jauh lebih lengkap.

Tawaran sang adik ditolak oleh Hizan al Fuhaidi dengan alasan dirinya mampu merawat dan menjaga sang ibu. Sang adik bersikeras, jadilah kedua bersaudara itu membawa perkara ini ke pengadilan. Setelah sidang demi sidang, akhirnya sang hakim memerintahkan agar sang ibu dibawa ke pengadilan.

Kedua bersaudara pun membopong sang ibu yang beratnya hanya 40 kg ke hadapan hakim. Hakim kemudian bertanya, siapa yang lebih berhak tinggal bersamanya?

Sang ibu lalu menjawab sambil menunjuk ke Hizan, "Ini mata kananku!" kemudian menunjuk ke adiknya sambil berkata, "Ini mata kiriku!"

Berdasarkan kemaslahatan bagi sang ibu, hakim akhirnya memutuskan sang ibu dirawat oleh adik Hizan. Keputusan yang membuat Hizan al Fuhaidi sangat kecewa, air matanya menetes, air mata kemuliaan tanda bakti kepada ibunya.

Sungguh terhormat dan beruntung sang ibu memiliki dua anak yang berbakti, yang berlomba-lomba merawatnya di saat dirinya sudah tua renta. Ini pelajaran berharga tentang berbakti dikala durhaka semakin membudaya.

Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” [Ibrahim:41]

sumber : http://www.catatan-r10.com/2012/02/kakak-adik-berebut-memuliakan-ibu.html

Sabtu, 31 Maret 2012

A Girl With A Candle Light



Once in my life, i have entered a room. I didn’t know what was inside this room. It was so dark and I couldn’t saw anything but I was curious. It was impossible to know about what inside except entering that room. Slowly I walked in. It was getting interested. I didn’t have any lighter, I just kept walked in. I shouted “Hello, any body here?” and there was no answer. Soon, this room felt so big, I couldn’t reached any wall or anything. I kept walked, thought I didn’t know what will happen, I just wanted to satisfy my curiosity in that empty-looked room. I looked back and I shocked, “where is the door?”. I realized that I was trapped there. There was no way to go back. I didn’t know what to do, I just kept walked. Everything was so bored and dark, I hoped something would happen. Suddenly, I saw a light. An only light came out from such a long distance. I stared at that light. It was a girl with a candle light in her hand.



“Hi Hans”, that girl greeted me. “How do you know my name? … Who are you?”, I replied. That girl didn’t answer anything, she kept silent then. “Hey, did you hear me?,… Who are you?”, I asked. She still didn’t say anything. “What is this room?, say something please”, I asked again. Still, there was no answer. This room became silent but there were many questions in my head. These questions are still drifting. It was an awkward silent. But then, she said something and smile at me, “Don’t worry this is just my past”. And then she gone.


-cerpen yang belum selesai-

Rabu, 15 Februari 2012

Sendiri

ramai tak henti
kata berpaut kata silih berganti
dinginnya malam tak ku peduli
karena kehangatan selalu di hati

sang waktu pun mulai benci
kewajiban lain mulai iri
tugas tugas ku mulai mencaci
menanti untuk dilunasi

ku tak peduli
biarlah mereka menanti
biarlah mereka iri
hanya kau yang ku temui

namun kini...
kau pergi
tak ada basa basi
menjauh dalam sunyi

ku termenung dalam sepi
kerinduan ku tak bertepi
gelisah ku tak kunjung henti
mencari noda dalam hati
mencari salah dalam diri

ku sendiri...
disini...
berteman sepi...

Minggu, 29 Januari 2012

Aku Rindu

Aku rindu zaman ketika halaqoh adalah keperluan,
bukan sekedar sambilan apalagi hiburan …

Aku rindu zaman ketika mambina adalah kewajiban
bukan pilihan apalagi beban dan paksaan …

Aku rindu zaman ketika dauroh menjadi kebiasaan,
bukan sekedar pelangkap pengisi program yang dipaksakan …

Aku rindu zaman ketika tsiqoh menjadi kekuatan,
bukan keraguan apalagi kecurigaan …

Aku rindu zaman ketika tarbiyah adalah pengorbanan,
bukan tuntutan, hujatan dan obyekan….

Aku rindu zaman ketika nasihat menjadi kesenangan
bukan su’udzon atau menjatuhkan …

Aku rindu zaman ketika kita semua
memberikan segalanya untuk da’wah ini …

Aku Rindu zaman ketika nasyid ghuroba
manjadi lagu kebangsaan…

Aku rindu zaman ketika hadir liqo adalah kerinduan
dan terlambat adalah kelalaian …

Aku rindu zaman ketika malam gerimis
pergi ke puncak mengisi dauroh
dengan uang yang cukup2
dan peta tak jelas …

Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah
benar-benar berjalan kaki 2 jam
di malam buta sepulang tabligh da’wah di desa sebelah …

Aku rindu zaman ketika pergi liqo
selalu membawa infaq, alat tulis, buku catatan
dan qur’an terjemah ditambah sedikit hafalan …

Aku rindu zaman ketika binaan menangis
karena tak bisa hadir di liqo …

Aku rindu zaman ketika tengah malam pintu diketuk
untuk mendapat berita kumpul di subuh harinya …

Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah
berangkat liqo dengan wang belanja esok hari untuk keluarganya …

Aku rindu zaman ketika seorang murobbi
sakit dan harus dirawat,
para binaan patungan mengumpulkan dana apa adanya …

Aku rindu zaman itu …

Ya Rabb …
Jangan Kau buang kenikmatan berda’wah dari hati-hati kami …

Ya Rabb …
Berikanlah kami keistiqomahan di jalan da’wah ini …

KATA-KATA "SANG MURABBI" KH RAHMAT ABDULLAH

Minggu, 08 Januari 2012

Ikhlas

Saya yakin bahwa semua orang setuju bahwa hidup ini selalu dipenuhi dengan masalah. Ya, masalah begitu identik dengan kehidupan manusia. Salah satu guru SMP saya pun pernah berkata semua orang pasti memiliki masalah, kecuali orang gila. Dulu saya yakin dengan ucapan ini, tapi menurut saya, orang gila juga punya masalah, hanya saja mereka tidak menyadarinya atau mungkin kita yang tidak memahaminya.

Hidup ini adalah perjuangan. Sejak kita keluar dari rahim ibu kita, kita telah mulai untuk berjuang. awal dilahirkan pun kita sudah berjuang untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Yang pada awalnya kita bermandikan air ketuban dan semua kebutuhan kita terpenuhi, namun setelah keluar dari rahim kita memulai perjuangan menghirup udara secara langsung, dan berjuang agar kelima panca indra kita bisa beradaptasi dengan lingkungan baru.

Perjuangan dan masalah sangat erat kaitannya. Orang selalu berjuang karena ada masalah. Ya, perjuangan itu kita lakukan untuk menghadapi masalah.

Mengapa bayi berusaha belajar berjalan?
Mengapa mahasiswa berjuang untuk mendapatkan nilai yang bagus?
Mengapa saya berjuang untuk menulis entri blog ini?

Semua muncul karena permasalahan. Permasalahan inilah yang menjadi alasan kita untuk berjuang, yaitu untuk menyelesaikannya.
Sekarang pertanyaannya, kapan kita dikatakan berhasil? Dan kapan kita dikatakan gagal? Semua tergantung defenisi berhasil dan gagal yang kita pegang. Ada suatu quote menarik yaitu :

"The Opposite of Success is NOT Fail but Quit"

Yap, defenisi gagal itu berbeda untuk setiap orang. Hanya mereka yang optimis yang akan terus berusaha dan yang pesimis akan selalu bermuram durja.

So, success or fail is not d point, yang terpenting adalah USAHA dan DOA, sisanya mari kita serahkan kepada Allah SWT. Dia lah yang berhak menentukan nasib kita. Yang terpenting adalah :

~I.K.H.L.A.S~

Satu kata yang apabila kita dapat memaknainya maka insyaAllah hidup kita akan bahagia. Orang-orang yang salah memaknai kata ini ialah orang-orang yang terlalu banyak menuntut. Padahal kita tahu, semua yang ada di muka bumi ini termasuk alam semesta beserta isinya adalah milik Allah SWT. Wajah, harta, rumah, mobil, semua hanya titipan, termasuk raga ini. Kapanpun Ia berhak mengambilnya. Hak kita hanya sebatas amalan yang kita miliki. Maka dari itu, jagalah optimis dalam diri kita masing-masing. Lakukan semaksimal yang kita bisa, khusyukkan do'a kita, dan yakinlah do'a itu akan di ijabah oleh Nya. Jika yang terjadi tidak sesuai yang kita inginkan, maka tetaplah kita bersyukur, karena yakinlah, semua hasil yang kita peroleh itu ialah 

~T.A.K.D.I.R~