Rabu, 20 Februari 2013

Menjadi anak-anak


sumber gambar : http://www.u-channel.tv/blog/2010/11/17/menuntun-anak-anak-anda-melewati-masa-masa-sulitbag-1/anak-anak/

Lihatlah wajah-wajah polos mereka
Mereka belum mengenal dunia
Sebagian besar waktu mereka dihabiskan untuk bermain
Meski terkadang mereka tidak sadar mereka sedang bermain
Ketika sedang  belajar, bekerja, mereka sisipkan permainan tanpa mereka sadari.
Waktu disuruh ngepel lantai, mereka jadikan kain pel buat main plesetan.
Waktu disuruh nyapu halaman pake sapu lidi, mereka malah main nenek sihir yang terbang pake sapu
Waktu disuruh cabut rumput, mereka malah mainin cacing.
Zzzz, yang diatas masih mending sih, bahkan ada yang disuruh cuci piring malah kabur
main bola -___-" (ps: bukan saya)

Itulah anak-anak
Mereka ceria, tertawa, menangis sesukanya.
Mereka lugu
Mereka polos

Tidak seperti kita yang dewasa
Banyak noda
Sibuk jaga wibawa
Bertopeng dan pura-pura
Basa basi di mana-mana

Bahkan terkadang ketika ditawari makanan, kita berbasa basi "udah makan", padahal lagi laper-lapernya meski memang sudah makan sebelumnya (jauuuuh sebelumnya).
Waktu ditawari tebengan pulang, kita tolak dengan alasan "nggak usah, deket kok" padahal nyampe rumah kecapean juga ujung-ujungnya.
Waktu nolongin orang terus dikasih "imbalan" secuil, kita tolak, "nggak usah gw ikhlas kok". Padahal lagi butuh duit banget. Atau lebih parah lagi kalau dalam hatinya, "ih pelit banget cuma ngasih segini".

Terkadang ketika suntuk dengan masalah, gw berandai-andai, meski juga nggak mungkin terjadi. Seandainya kita semua anak kecil lucu juga ya, haha

Nggak bakal ada korupsi, kecurangan politik dsb.
Nggak bakal ada perampokan, pembunuhan, dan kejahatan-kejahatan terencana lainnya.
Lebih-lebih, nggak bakal ada yang bunuh diri karena Cinta (dan alasan-alasan konyol lainnya)

Terkadang
Mengapa kita tidak menjadi anak-anak?
Minimal untuk mengurangi beban pikiran sejenak.
Let's play :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar